Tentu saja judul di atas terlalu bombastis, bahkan mengada-ada. Masa iya presiden disamakan dengan kerbau.
Tapi kerbau, binatang berkaki empat yang biasanya berwarna abu-abu kehitaman, berbadan gemuk dan bergerak lamban itu sekarang ini memang menjadi binatang yang sangat populer. namanya sampai terbawa-bawa dalam rapat para petinggi republik ini. Malah sebuah rapat yang maha penting karena diikuti oleh semua gubernur dari seluruh Indonesia. Popularitasnya bahakan diyakini mampu menggusur popularitas “cicak” dan “buaya” yang tempoh hari sangat ngetop itu.
Adalah demonstrasi memperingati 100 hari pemerintahan SBY – Boediono, 28 Januari lalu, yang memopulerkan kerbau. Konon, sekelompok mahasiswa yang berunjukrasa menggiring seekor kerbau yang ditulisi “SBY”. Konon, kerbau itu dipakai sebagai lambang SBY yang malas dan lamban. Tapi anehnya pernyataan ini justeru keluar dari presiden, bukan dari para mahasiswa. Malah sebelum presiden berkeluhkesah pasal kerbau dan demonstrasi di Istana Cipanas, saya malah belum tahu kalau ada mahasiswa mengarak kerbau SBY dalam demonstrasi beberapa hari lalu.
Bagaimanapun sangat wajar jika presiden marah dirinya disamakan dengan kerbau. Memang agak keterlaluan. Tetapi betulkah kerbau adalah bianatang dungu dan nista. Goenawan Mohamad di dinding laman fesbuknya pagi ini menulis: “Dalam “Max Havelar”, Saijah, anak dusun yang dizalimi, bangga akan kerbaunya: hewan yang bisa kalahkan harimau. Hidup kerbau!” Jadi menurut penggambaran buku Max Havelar, kerbau itu binatang yang kuat sekaligus cerdik. Bagaimana mungkin ia bisa mengalahkan harimau kalau ia lamban dan dungu?
Masih dari dinding laman fesbuk, teman saya Putu Setia yang kini menetap di Bali menulis: “Jika ada hewan yang paling saya kagumi itulah: KERBAU. Di Bali (barat) dia dipakai menarik bajak karena kuat dan lamban disawah. Tapi, usai panen, dia perkasa dan berlari kencang dalam karnaval spektakuler “mekepung”. Dia rela mengorbankan nyawa untuk keselamatan manusia, tak ada ritual besar yang tanpa memakai kerbau….” Tak hanya itu, menjawab komentar saya Putu Setia masih menambahkan, “kerbau tak pernah jatuh di kubangan, dia mencari kubangannya sendiri karena tak mau merebut kubangan orang lain. Ini salah satu binatang soleh dari sekian banyak binatang religius. Seingat saya di Kraton Solo ada kerbau yang sampai dikeramatkan, meski saya tak setuju istilah itu.”
Jadi apakah dianalogikan sebagai harimau menjadikan kita lebih terhormat daripada diibaratkan kerbau? apakah diandaikan sebagai kancil, yang cerdik sekaligus pembohong, lebih menyenangkan daripada diibaratkan sebagai anjing?
Tetapi sebenarnya inti masalahnya, tentusaja, bukan pada titel perikebinatangan itu. Kegusaran presiden SBY terhadap hirukpikuk demonstrasi itulah pokok persoalannya. Rupanya, kesabaran presiden menghadapi gelombang demonstrasi yang tak habis-habisnya menggoyang pemerintahannya mulai menipis.
Sebagai seorang jawa, SBY memang tidak pernah “menggebuk” sesuatu secara langsung. Ia lebih suka cuci tangan, berlindung secara aman dan menggunakan tangan orang lain untuk menyelesaikan banyak hal. Lihatlah kasus KPK yang berbuntut “cicak dan buaya”. Ia lebih suka membentuk Tim 9, yang kemudian berubah nama menjadi Tim 8, daripada menyelesaikan kasus itu secara langsung. Dengan begitu ia seolah-olah tetap bersih, dan apapun rekomendasi Tim 8 adalah bukan tanggungjawabnya, tetapi pendapat para ahli. Gonjang-ganjing Bank Century pun setali tiga uang. SBY lebih suka melempar bola panas itu ke beberapa sudut lapanagn ketimbang ia segera melokalisir permasalahan yang saya yakin akan lebih cepat terselesaikan.
Kembali ke masalah kerbau dan demonstrasi, sepertinya SBY ingin menggunakan tangan para penegak hukum (polisi, dll.) untuk ‘menertibkan” cara demonstrasi agar lebih santun. Inilah gaya “menggebuk” meminjam tangan yang saya maksud. Pesannya sudah jelas. Itu adalah pesan seorang raja Jawa yang berlindung di balik tatakrama dan kata-kata. Tinggal para kakitangan itu (kapolri, gubernur, dll.) segera menterjemahkan pesan itu di seluruh penjuru negei ini.
Menurut pandangan saya. Pesan SBY ini jauh lebih jelas dari pada pesan “Raja Jawa” terdahulu. Maksud saya Pak Harto. Kalau Pak Harto, para petinggi di sekelilinginya masih agak kerepotan penterjemahkan apa maunya Boss besar. Bahkan senyumannya, cara berdehemnya pun perlu penterjemah yang ahli. Bahkan menteri yang siang dan malam selalu dekat dengan beliau pun bisa salah menterjemahkan “batuk”nya Pak Harto.
Kalau pesan SBY ini, selain jelas dan gamblang, meskipun dibumbui dengan pengormatan kepada iklim berdemokrasi dan budaya sopan-santun, tetaplah mempunyai implikasi jelas. Yaitu niat untuk mengurangi nilai kebebasan itu sendiri.
Saya juga sependapat dengan para penganalisis yang mengatakan pesan SBY ini bersayap. Ia tak hanya ingin “menggebuk” tetapi juga berkeluhkesah sekaligus. Jelasnya ia “jual penderitaan” seolah-olah menjadi korban yang selalu dizalimi. Saya setuju bahawa pemimpin yang suka jual penderitaan adalah pemimpin yang cengeng. Tetapi saya juga setuju bahawa untuk saat ini kita tidak memiliki pilihan selain menunggu hingga 2014 dimana proses demokrasi memungkinkan kita untuk memilih pemimpin yang baru.
Jadi entah memakai kerbau, tikus, atau kura-kura, toh demonstrasi terbukti berjalan dengan aman. Tak ada anarki. Tak ada kerusuhan. Biarlah mereka mengekspresikan diri, bahkan sendainya mereka membawa semua koleksi binatang dari Taman Safari. Sedikit humor dalam berpolitik saya rasa belum lah perlu di’gebuk”.
Didik Budiarto














Recent Comments