05
Nov
09

SOT OF THE DAY: Syafii Maarif, “Orde Baru jilid 2″

“Saya khawatir sekarang ini mulai terjadi proses menghidupkan kembali Orde baru Jilid 2, yang bedanya hanya dikemas dengan kesantunan. Sekarang, sepanjang kebebasan pers masih belum dimatikan, mari kita bangun kekuatan sipil. Tidak soal partai politik dan politisi lumpuh seperti ayam pengecut…” kata Syafii Maarif bekas, ketua umum Muhammadiyah (KOMPAS, 4/11/09). Katanya lagi, keberadaan Bibit dan Chandra sudah menjadi simbol hati nurani rakyat, yang seharusnya bisa ditangkap oleh pemerintah.

>>>Di laman facebook saya, beberapa hari lalu, banyak yang cemas setelah ‘kriminalisasi’ terhadap KPK akan disusul dengan ‘kriminalisasi’ pers. Wah bagaimana ini Buya?

05
Nov
09

SOT OF THE DAY: Mahfud MD, “pasti digilas!”

“Jangan berani melawan arus kekuatan rakyat. Pasti digilas!” kata ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD., setelah memperdengarkan rekaman sadapan pembicaraan telepon Anggodo dengan pelbagai pihak. Akhirnya Anggodo yang sudah ditangkap sehari sebelumnya, dilepas lagi oleh polisi karena, konon,  tidak terdapat bukti yang cukup.

>>>pasti sakit hati rakyat mendengar Anggodo dilepaskan…

22
Oct
09

Kabinet Indonesia Bersatu II: Balas Budi & perkoncoan?

Ini lah daftar menteri Kabinet Indonesia Bersatu II yang dilantik oleh presiden kemarin. Senang atau tidak senang, kita harus memberikan ruang dan waktu bagi mereka untuk membuktikan kapasitas dan kinerjanya dalam 100 hari ke depan. Memang banyak kejuta politik dalam penyusunan kabinet ini, sehingga wajar juga kalau kemudian muncul banyak komentar ‘miring’ karenanya.

Inilah mereka yang terpilih dalam “Cikeas Idol” itu:

Djoko Suyanto, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan

Hatta Rajasa, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian

Agung Laksono, Menteri Koordinator Bidang Kesejateraan Rakyat

Marty Natalegawa, Menteri Luar Negeri

Gamawan Fauzi, menteri Dalam Negeri

Purnomo Yusgiantoro, Menteri Pertahanan

Sudi Silalahi, Menteri Sekretaris Negara

Suryadharma Ali, Menteri Agama

Patrialis Akbar, Menteri Hukum dan HAM

Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan

M. Nuh, Menteri Pendidikan Nasional

Jero Wacik, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata

Salim Segaf Aljufri, Menteri Sosial

Muhaimin Iskandar, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi

MS Hidayat, Menteri Perindustrian

Mari Elka Pangestu, Menteri Perdagangan

Darwin Saleh Zahedi, Menteri ESDM

Djoko Kirmanto, Menteri Pekerjaan Umum

Freddy Numberi, Menteri Perhubungan

Tifatul Sembiring, Menteri Kominfo

Suswono, Menteri Pertanian

Zulkifli Hasan, Menteri Kehutanan

Fadel Muhammad, Menteri Kelautan dan Perikanan

Armida Alisjahbana, Kepala Bappenas

EE Mangindaan, Meneg PAN dan Reformasi Birokrasi

Mustafa Abubakar, Meneg BUMN

Gusti Muhammad Hatta, Meneg Lingkungan Hidup

Suharna Surapranata, Menteri Negara Riset dan Teknologi

Syarief Hasan, Menteri Negara Koperasi dan UKM

Linda Gumelar, Meneg Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

Andi Mallarangeng, Menteri Pemuda dan Olahraga

Suharso Monoarfa, Menteri Perumahan Rakyat

Helmi Faisal Zaini, Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal

Endang Rahayu Setianingsih, Menteri Kesehatan

16
Oct
09

Koalisi Jumbo dan Oposisi Setengah hati

Koalisi Jumbo, kemana gerangan dikau? pertanyaan itu tentu relevan untuk diajukan. Partai politik yang mewacanakannya ketika itu banyak betul. Sebutlah PDIP, Golkar, PPP, PAN, Gerindra, PBB, dan banyak partai kecil lainnya. Mereka, seolah-olah mau menjadikan SBY dan Partai Demokrat sebagai musuh bersama yang harus dikalahkan dalam Pemilu 2009 dan Pemilihan Presiden.

Tetapi belum setengah jalan koalisi jumbo itu mulai rontok karena sebagian anggotanya menyeberang. Hingga Pilpres, Koalisi Setengah Jumbo itu, setidaknya, masih eksis karena mereka walaupun terpisah dan mengajukan capresnya masing-masih, masih terkesan mengeroyok SBY.

Tetapi ternyata sekarang, setelah SBY terpilih menjadi presiden untuk periode keduanya, kolaisi jumbo itu malah berpindah tempat. Yang ‘jumbo’ malah kubunya SBY. Golkar resmi menyeberang. Praktis hanya tersisa PDIP dan Gerindra.

Lalu apakah PDIP dan Gerindra akan menjadi opisisi di parelemen nanti?

Oposisi setengah hati mungkin ya. Karena hingga sekarang tak ada ketegasan dari Megawati untuk mengatakan bahwa PDIP tetap akan menjadi oposisi. Malah suaminya, Taufik Kiemas, dalam pelbagai kesempatan mengatakan akan menerima kalau ditawari kursi menteri. “Tidak meminta, tetapi kalau ditawari tidak akan menolak” Sementara itu Gerindra, partai dengan perolehan di bawah 5%, kalau toh tetap akan beroposisi bisa melakukan apa? kekuatannya di DPR ibarat garam di tengah laut.

Jadi siapa yang masih berharap ada oposisi untuk penyeimbang, ia ibaratnya tengah bermimpi di siang bolong. Kalau pun ada oposisi, ia adalah oposisi setengah hati, atau tepatnya ‘oposisi banci’, karena sejatinya orientasi mereka adalah pada kekuasaan.

Koalisi Jumbo sudah mati, Oposisi pun tak bergigi lagi.

14
Oct
09

Catatan Kaki (14/10/09)

Majelis Ulama Indonesia menyatakan bahwa muka Miyabi, bintang filem Jepang, adalah muka porno.

>>>Jadi bingung, wajah porno itu yang seperti apa sih? Jangan-jangan wajah para politisi kita ‘porno’ semua.

12
Oct
09

Antara Rizal Mallarangeng dan Anas Urbaningrum

mallarangengPemilihan Ketua Umum Golkar yang menghantar Aburizal Bakrie ke puncak pimpinan partai berlambang beringin menyisakan polemik atas masuknya Rizal Mallarangeng ke jajaran pengurus. Bagaimana tidak, Celi, begitu Rizal biasa dipanggil, selama ini belum pernah tercatat sebagai anggota Partai Golkar. Ia malah dikenal sebagai ‘kutu loncat politik’ nomor wahid. Ia adalah pembela yang gigih ketika Megawati akan naik ke kursi no 1 di republik ini sehingga Taufik Kiemas merekomendasikannya menjadi ‘orang dalam’ ketika Megawati jadi presiden. Celi juga nampak menjadi tim sukses Ical (jangan salah antara Ical dan Celi) ikut konvensi Partai Golkar 5 tahun lalu yang akhirnya dimenangi oleh Wiranto. Celi kembali bersama Ical di kementerian manakala Ical menjadi Menko Kesra. Tiba musim kampanye, giliran ia meloncat ke kubu SBY. Celi menjadi jurubicara pasangan SBY-Boediono. Ia bersama kakaknya, Andi Mallarangeng, dan adiknya, Choel Mallarangeng, berada di balik kemenangan SBY-Boediono. Kini, setelah ia sukses mengantar Aburizal Bakrie sebagai ketua umum partai kuning, ia pun diganjar kursi bergengsi di DPP Partai Golkar.

Menempatkan orang luar distruktur utama partai, selalu mengundang kontroversi dan kecemburuan. Bagaimana tidak. Praktik ini, bagi sebagian besar kader partai dianggap sangat menyakitkan. Mereka yang, konon, sudah berdarah-darah untuk partai disingkirkan begitu saja sementara orang luar tiba-tiba muncul menjadi pimpinan. Kes serupa terjadi pada partai Demokrat beberapa waktu lalu. Kita ingat Anas Urbaningrum yang bekas anggota KPU tiba-tiba direkrut SBY sebagai salah satu petinggi Partai Demokrat. Banyak pula protes dari kader, terutama yang muda, yang merasa dilangkahi. Tetapi Anas memang berhasil membuktikan bahwa ia memang sangat dibutuhkan dan sangat berjasa bagi kemenangan partai Demokrat pada Pemilu 2009 lalu. Kemenangan yang sangat fenomenal dan mencengangkan.

Anas Urbaningrum, sebagai politisi muda memang sangat cerdas. Selalu tampil dingin dan tidak mudah terpancing. Bahkan dalam perdebatan yang paling panas sekali pun. Ia adalah salah satu otak partai Demokrat yang paling cerdas. Pantaslah kalau beberapa hari lalu ia diisukan akan ditunjuk sebagai ketua DPR dan menjadi salah satu menteri kabinet mendatang.

Lalu bagaimanakah dengan Rizal Mallarangeng? doktor ilmu politik graduan Ohio State University ini memang berasal dari klan cerdas. Andi Mallarangeng, sebelum menjadi jurubicara presiden, dikenal sebagai pengamat politik yang cerdas dan namanya cepat meroket, meskipun kemudian sepakterjangnya sebagai jurubicara presiden kemudian meluruhkan predikat itu. Adik Celi, yang baru saja mengorbit bersama Fox yang didirikannya (yang juga berada di balik kemenangan SBY-Boediono), juga sosok pemikir muda yang cepat meraih sukses. Ketiga kakak-beradik ini, selain dikenali klan cerdas, juga adalah klan mendukung SBY.

Saya mengenal dekat Andi dan Celi, karena sama-sama aktif ketika kuliah di UGM dulu. Malah ketika Andi menikah (dengan teman saya juga), saya mengerahkan 10 anggota klub fotografi mahasiswa yang saya pimpin untuk mendokumentasikan prosesi pernikahannya. Jadi saya cukup mengenal talenta yang ada pada diri kakak beradik ini. Bakat memimpin memang sudah mereka tunjukkan sejak muda.

Tetapi apakah waktu, kepentingan politik, uang, dan kekuasaan akan mengubah mereka? Walahualam. Saya cukup sedih ketika mendapati postingan seorang kawan di sebuah milis yang saya ikuti. Konon, begitu ia berpendapat, idealisme kakakberadik Mallarangeng adalah uang. Benarkah? Biarlah masing-masing memberikan pandangan sesuai dengan kepentingannya.

Rizal Mallarangeng dan Anas Urbaningrum tentulah tidak sama. Masing-masing juga telah membuktikan kelebihan di bidangnya. Bagaimanapun, rekamjejak keduanya tentu bisa kita pakai untuk memprediksi apa yang akan berlaku di tubuh Partai Demokrat dan Partai Golkar beberapa tahun di hadapan.

Mudah-mudahan talenta yang mereka miliki bermanfaat bagi republik ini, bukan menjejaskannya ke bencana politik baru.

12
Oct
09

Catatan Pinggir Goenawan Mohamad: Kastil

Kastil

Senin, 12 Oktober 2009

SEORANG gubernur mengeluh. Saya kebetulan mendengarnya. Maka tahulah saya ada yang ganjil yang jadi rutin dalam pemerintahan kota yang dipimpinnya, seakan-akan sang gubernur dan administrasinya muncul dari novel Kafka, seakan-akan Kafka bukan hidup di Praha di awal abad ke-20 melainkan di Jakarta, mungkin di sekitar Gambir, sejak empat dasawarsa ini. Tapi cerita ini bukan buah imajinasi seorang sastrawan: pada suatu hari di tahun 1990-an gubernur itu memang mengirim surat dinas ke direktur kebun binatang di Ragunan. Berhari-hari ia tak menerima jawaban dari bawahannya itu. Kemudian baru ia ketahui, surat yang ditandatanganinya itu perlu waktu tiga bulan untuk keluar dari kantor gubernuran. Berminggu-minggu kertas itu diteruskan dari biro satu ke biro lain di dalam kantor yang sama, sebelum akhirnya dikirim ke alamat yang dimaksud. Gubernur itu, seorang perwira tinggi angkatan darat yang lurus hati yang diberi jabatan itu baru satu tahun, bertanya seakan-akan pada dirinya sendiri: ”Kantor macam apa ini?” Seorang wali kota juga mengeluh. Atau mungkin lebih tepat terenyak. Ia seorang mantan pengusaha sukses yang dipilih dengan penuh harapan oleh rakyat di kota Jawa Tengah itu. Tapi pada hari pertama ia masuk kantor balai kota, ia lihat ratusan orang duduk di dalamnya: para pegawai. Sebagian besar baca koran. Sebagian lagi main catur. Bahkan ada seorang pegawai perempuan asyik merajang sayur. Sang wali kota pun pulang ke rumahnya dan termangu di hari pertama masa jabatannya: ”Kantor macam apa itu?” Jawabannya sangat mengejutkan: itu adalah kantor yang biasa saja, Pak—kantor pemerintah. Itu adalah kantor di mana mesin yang disebut birokrasi hadir, nongkrong, seakan-akan untuk membatalkan tesis Max Weber dan mengukuhkan gambaran yang absurd dalam karya-karya fiktif Kafka—meskipun cerita birokrasi Indonesia tak sepenuhnya bisa dijelaskan dengan kemuraman Kafka. Max Weber, kita ingat, mempertautkan birokrasi dengan keniscayaan dunia modern. Berbeda dari kaki tangan raja-raja di zaman lampau, yang bekerja berdasarkan perpanjangan kharisma Yang-Dipertuan-Agung, birokrasi merupakan alat sebuah otoritas yang bersifat ”legal-rasional”. Dalam tesis Weber, birokrasi membawa dalam dirinya aturan dan hierarki yang jelas. Organisasi itu punya arah atau sasaran yang terfokus, dan ia dengan sadar bersifat impersonal. Seluruh bangunan itu punya rasionalitas yang mantap. Tapi apa kiranya yang ”rasional” di kantor sang gubernur dan sang wali kota? Gubernur kita tak tahu, wali kota kita tak tahu, saya juga tak tahu. Tapi jangan-jangan inilah ”rasionalitas” itu: birokrasi itu adalah sebuah agregat yang lahir dari argumen bahwa ia diperlukan. Birokrat, kata Hannah Arendt dengan sedikit mencemooh, adalah ”the functionaries of necessity”. Dengan catatan: necessity itu, keperluan yang tak bisa dielakkan itu, pada awal dan akhirnya ditentukan oleh dinamika organisasi itu sendiri. Birokrasi tak perlu punya sasaran untuk dicapai. Mesin itu berjalan mandiri. Di sinilah yang absurd berlangsung—sesuatu yang dibuat alegorinya oleh Kafka dalam cerita pendeknya yang termasyhur, Di Koloni Hukuman. Di pulau itu, seorang opsir menjelaskan kepada seorang pengunjung tentang proses eksekusi yang akan dijalani seorang terhukum. Ia akan diletakkan telungkup di bawah sebuah mesin yang bekerja seperti sehimpun jarum tato raksasa, mesin yang akan menusuki si terhukum dan dengan itu akan tertulis sebuah kalimat perintah di tubuhnya. Setelah 12 jam, si terhukum mati. Yang menarik dari penceritaan Kafka adalah bahwa yang jadi fokus bukan si terhukum; orang ini cuma diam saja, bahkan tak tahu atau peduli apa kesalahannya. Melalui sang Opsir, tokoh utama yang muncul adalah mesin yang ganjil, brutal, dan rumit itu. Ketika sang Opsir yang mengoperasikan mesin itu tahu penggunaannya tak akan diizinkan lagi, ia membiarkan dirinya jadi korban. Mesin ada, dan sebab itu harus didapatkan sasarannya. Birokrasi juga menyatakan diri perlu, tapi kita tak tahu apa fungsinya ketika ia hadir, dalam jumlah yang berlebih dan tak bekerja untuk satu hasil. Dalam aturan yang berlaku, sang wali kota tak boleh memecat pegawainya—meskipun ia sanggup bekerja dengan 20% saja dari tenaga yang ada. Bahkan tiap tahun ia harus menerima 700 pegawai baru. Memang harus ditambahkan di sini: berbeda dari mesin yang digambarkan Kafka, aparat pemerintahan di kantor-kantor negara tak tampak mengerikan. Bahkan mungkin alegori Di Koloni Hukuman tak tepat dipakai. Mereka yang duduk menganggur di kantor wali kota itu tak punya ciri-ciri mesin yang efektif. Jika kita harus memakai kiasan Kafka—mungkin satu-satunya novelis yang dengan imajinatif menggambarkan dunia modern yang harus menanggungkan organisasi—maka birokrasi kita lebih mirip sebuah kastil. Dalam novel Das Schloß, (artinya ”kastil” dan juga ”gembok”), kita dipertemukan dengan sebuah konstruksi yang mendominasi lanskap desa. Kastil itu menguasai wilayah itu, tapi tak tampak siapa yang punya. Ketika K datang untuk menghadap, yang disebut hanya seorang administrator yang bernama Klamm (dalam bahasa Cek berarti ”ilusi”) yang tak pernah bisa ditemuinya. Kekuasaan itu tak jelas, tapi terasa, kadang-kadang muncul, melalui lapisan staf dan telepon yang berdering dan tak disahut. Birokrasi yang impersonal itu pada akhirnya tak menjawab dan tak jelas kepada siapa ia bertanggung jawab. Di balik bangunan besar itu, mungkin sebenarnya hanya ada khaos. Gubernur itu menyerah. Wali kota itu menyerah.

Goenawan Mohamad

10
Oct
09

Tanpa jilbab, Puteri Aceh menangi pemilihan Puteri Indonesia

4186814582-finalis-aceh-terpilih-jadi-puteri-indonesia-2009

Qory Sandioriva, wakil dari Serambi Mekah, akhirnya ditabalkan sebagai Puteri Indonesia 2009. Ia menyingkirkan 37 puteri dari seluruh Indonesia lainnya yang juga berambisi mengenakan mahkota idaman para remajaputeri  itu. Sebenarnya tak ada yang aneh dengan mahasiswi semester 1 jurusan Sastra Perancis Universitas Indonesia ini. Ia pantas menyandang gelar Miss Indonesia karena ia cantik, cerdas, dan mampu memikat 10 juri yang bertugas sekaligus memperoleh sanjungan dari mayoritas penonton.

Sampai di sini memang semuanya tak ada masalah. Kontroversi timbul manakala orang mulai mengaitkannya dengan daerah asal yang diwakilinya. Ya NAD, Nangroe Aceh Darusalam, daerah yang dikenali juga sebagai Serambi Mekah. Kita tahu, di sana berlaku undang-undang khusus yang mengacu kepada Syariat Islam. Qanun.

Pada kontes Puteri Indonesia sebelumnya, wakil dari NAD selalu mengenakan jilbab, tapi tidak dengan gadis berusia 18 tahun bernama Qory ini. Ia tampil cantik tanpa busana Muslimah. Dan ia menang! tapi tentu saja bukan karena ia dari Aceh dan tak berjilbab ia menang. Sejatinya ia memang pantas menang. Tengoklah apa katanya tentang jilbab yang tak ia kenakan, “Awalnya saya sempat pesimis ketika saya memutuskan untuk tidak mengenakan jilbab seperti para perwakilan NAD di tahun-tahun sebelumnya.”

Ternyata keputusannya tak mengenakan jilbab di kontes kecantikan ini sudah mendapat restu pemerintah kota di Aceh.  Dalam kehidupan sehari-hari Qory memang tak mengenakan jilbab. Jadi apakah ada pengecualian dalam Qanun?

Kita baru saja dikagetkan tentang hukum rajam yang akan diterapkan di Aceh bagi penzina di sana. Kita juga maklum bahwa seluruh perempuan di Aceh, penduduk maupun pendatang, wajib mengenakan jilbab tak peduli ia Muslim atawa Non Muslim. Kita juga sering mendengar bagaimana ketatnya hukum Islam diberlakukan di sana. Malah ketika bulan Ramadhan, penduduk yang kelihatan merokok atau tidak berpuasa akan ditangkap dan diarak keliling kota.  Jadi “lubang” seperti apa yang bisa meloloskan Puteri Aceh tanpa jilbab?

Saya tidak ahli pasal hukum yang berlaku di Aceh. Tetapi saya hanya khawatir isu ini akan membangkitkan kontroversi yang tidak produktif. Bagaimanapun, Qory, akan mewakili Indonensia ke ajang pemilihan ratu dunia yang kita kenali sebagai pemilihan Miss Universe. Di sana ia harus mengenakan bajung renang, entah itu one piece ataupun two pieces. Tentu ini akan lebih menghebohkan dari kontes di Jakarta kemarin.

Apakah di panggung Miss Universe ia akan kembali beruntung karena ia puteri dari Aceh? Saya berdoa dengan sedikit rasa cemas….

10
Oct
09

Rooney Kecil di reruntuhan gempa

Rooney kecil

Mengenakan kaos Manchester United, bocah kecil ini menatap kosong reruntuhan rumahnya yang luluhlantak digegar gempa. Ada berapa bocah di seluruh republik ini yang nasibnya tak menentu karena bencana?

10
Oct
09

Tahniah, kawan saya terima gelaran ‘Datuk’

Datuk Dr JunaidyHari ini salah seorang kawan rapat saya di kedutaan Malaysia di Jakarta menerima Darjah Mulia Seri Melaka (DMSM) sempena harijadi ke 71 Yang Dipertuan Negeri Melaka, Tun Mohd Khalil Yakob.

Diantara ramai kawan-kawan di sini, pengarah Jabatan Penuntut Malaysia, Dr. Junaidy Abu Bakar, lebih dikenali sebagai Doktor Jun. Malah silap-silap ramai yang menyangka ia adalah doktor perubatan. Tetapi hari ini ia pun telah ditabalkan bergelar Datuk dari Melaka. Ia ada di antara 1,230 penerima anugerah darjah, tauliah, bintang dan pingat kebesaran negeri Melaka.

Datuk Dr. Junaidy Abu Bakar adalah personaliti yang sangat popular di antara para penuntut Malaysia di Indonesia. Ia adalah pribadi yang ramah dan sangat dekat dengan para pelajar di hampir semua bandar di Indonesia. Ia adalah bapa bagi semua mahasiswa Malaysia di sini. Langkahnya ringan, tangannya cekatan. Hari ini ia mungkin ada di Padang, esok ada di Bandung, dan mungkin lusa ia ada di Surabaya untuk jumpa dengan pelajar yang menjadi tanggungjawapnya. Sayangnya, selepas memperoleh gelaran datuk, bulan di hadapan ia akan pulang ke Malaysia. Tugasnya di Indonesia akan ditamatkan.

Tahniah Datuk.

09
Oct
09

National Central Bureau Indonesia: “1 hari 1 WNI mati di Malaysia”

Brigjen Pol. Halba Rubis Nugroho, Sekretaris National Central Bureau (NCB) Indonesia, mengatakan bahwa dalam satu hari 1 warga negara Indonesia mati di Malaysia. “Malah dalam 3 tahun terakhir, 1421 WNI mati di Malaysia”, katanya lagi.

Yang jadi masalah, mereka ini mati karena apa? disiksa? dibunuh? kecelakan atau sakit? Data ini perlu diperjelas oleh pihak NCB supaya tidak terjadi salah tafsir dan dimanfaatkan kelompok-kelompok tertentu yang ingin merusak hubungan baik Malaysia dan Indonesia.

Hubungan rakyat kedua-dua negara sedang tidak harmonis karena pelbagai isu. Alangkah bijaknya kalau data yang dipublikasikan tidak multitafsir, sehingga tidak menambah potensi salahpaham diantara rakyat negara yang berjiran ini.

09
Oct
09

Aburizal Bakrie pimpin Golkar

icalAkhirnya, apa yang diharapkan dan juga dicemaskan banyak pihak terwujud. Ical, panggilan Aburizal Bakrie, yang hingga 20 Oktober nanti masih Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, terpilih sebagai ketua umum partai Golkar. Adakah ini sebuah pertanda kebangkitan Golkar di masa depan? ataukah ia sebagai pranala kehancuran partai berwarna kuning yang pernah memimpin republik ini?

Banyak analisis. Banyak pro dan kontra. Rekam jejak sang konglomerat mungkin bisa menjadi acuan. Pun tak ada yang bisa melarang jika ia dikaitkan dengan skandal Lumpur Super Panas Lapindo. Saya katakan super panas karena isu itu sudah tahun berganti tahun tidak kunjung dingin.

Bagaimana pun, keberhasilan Aburizal Bakrie ke pucuk pimpinan partai beringin dengan mengalahkan Surya Paloh (bos Media Group), Hutomo Mandala Putra (Putera Bungsu Pak Harto) dan Yudhy Chrisnandi (tokoh muda Golkar) harus diakui semua fihak. Bahwa ia merupakan pilihan dan hajat mayoritas unsur Golkar. Seburuk apapun proses pemilihannya, Ical adalah ketua yang baru.

Terpilihnya Ichal adalah juga kesuksesan SBY. Ia akan mengukuhkan SBY sebagai pemimpin dengan kuasa yang yang besar. Apalagi kalau PDIP juga menyeberang dan bergabung dengan pemerintahan SBY. Tengara itu sudah nampak ketika Taufik Kieamas, suami Megawati, terpilih menjadi ketua MPR. Malah kemudian Taufik dengan yakin mengakatakan kalau PDIP ditawari kursi menteri di kabinet mendatang tak bakal ditolak. Kalau benar terjadi Golkar dan PDIP bergabung dengan koalisi pemerintahan SBY, ditambah lagi kemungkinan Gerindra juga akan bergabung, kalau benar Prabowo Subianto akan disodori kursi menteri pertanian, lengkaplah sudah SBY akan menjadi penguasa mutlak negeri ini untuk masa 5 tahun ke depan. Ia juga akan menguasai DPR dengan dukungan lebih dari 90%. Padahal, menurut seorang kawan saya di status facebooknya, Pak harto saja yang sangat berkuasa paling banter hanya menguasai 72% dukungan di Senayan.

Golkar yang kuning, PDIP yang merah. Saya hanya kasihan kepada para pemilihnya di pemilu yang lalu. Apa gunanya mati-matian memilih beringin dan kepala banteng kalau toh akhirnya bergabung juga dengan demokrat?

Ah terlalu pusing untuk memikirkannya. Memang  di politik tidak ada yang kekal. Tak ada kawan maupun lawan yang kekal.

29
Jul
09

Noordin M. Top: 5 Alasan serangan ke JW MArriott dan ritz carlton

Berikut ini adalah pesan yang, konon, dari Noordin M. Top mengenai alasannya merancang bom bunuh diri di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton di kawasan antarabangsa Mega Kuningan, Jakarta, beberapa hari lalu.

Tidak ada yang berani memastikan bahwa pesan yang beredar di internet itu adalah pesan asli dari orang yang paling dicari polisi Indonesia itu. Mungkin saja ini ulah Noordin lain yang lagi kepingin Top. Tapi apa pun, isu itu tetap menjadi menarik karena panasnya sengatan bom itu masih membara di hati seluruh anak bangsa. Terlebih lagi, sejak adanya serangan bom di Indonesia, tidak pernah ada pihak-pihak yang mengaku bertanggungjawab. Tidak pernah ada pihak yang mengklaim itu sebagai perbuatannya (paling tidak sebelum mereka tertangkap). Jadi mengapa tiba-tiba Noordin sekarang mengemukakan alasannya?

Inilah 5 alasan itu:

1. Sebagai Qishoh (pembalasan yang setimpal) atas perbuatan yang dilakukan oleh Amerika dan antek-anteknya terhadap saudara kami kaum muslimin dan mujahidin di penjuru dunia

2. Menghancurkan kekuatan mereka di negeri ini, yang mana mereka adalan pencuri dan perampok barang-barang berharga kaum muslimin di negeri ini

3. Mengeluarkan mereka dari negeri-negeri kaum muslimin. Terutama dari negeri Indonesia

4. Menjadi pelajaran buat ummat Islam akan hakikat Wala’ (Loyalitas) dan Baro’ (Permusuhan), terkhusus menghadapi datangnya Klub Bola MANCESTER UNITED (MU) ke Hotel tersebut. Para pemain itu terdiri dari para salibis. Maka tidak pantas ummat ini memberikan Wala’nya dan penghormatannya kepada musuh-musuh Allah ini

5. Amaliyat Istisyhadiyah ini sebagai penyejuk dan obat hati buat kaum muslimin yang terdholimi dan tersiksa di seluruh penjuru dunia


26
Jul
09

Catatan Pinggir Goenawan Mohamad: Teror Itu

Jika bom itu tak hanya mengejutkan, tapi membuat kita marah dan sedih, jika beberapa orang bahkan menangis pagi itu, ketika dua ledakan membunuh sembilan orang dan melukai entah berapa lagi di Hotel Ritz-Carlton dan JW Marriott di Jakarta, apa sebenarnya yang terjadi? Saya tak tahu persis jawabnya. Kematian dan luka-luka itu mengerikan, tapi saya dengarkan percakapan, saya baca pesan di HP, dan saya mungkin bisa mengatakan bahwa kita marah, sedih, dan menangis karena tiba-tiba kita menyadari, betapa terkait kita dengan sebuah tanah air: sebuah negeri yang selama ini seakan-akan bisa diabaikan, atau hanya disebut dalam paspor—sebuah Indonesia yang seakan-akan selamanya akan di sana dan utuh tapi kini terancam—Indonesia yang dulu mungkin hanya menempel direkatkan ke kepala karena pelajaran kewarganegaraan di sekolah, karena pidato di televisi.Ketika bom itu mengguncang kita, pagi tiba-tiba jadi lain. Pagi itu kita merasa secara akut jadi bagian dari tubuh imajiner itu—justru ketika tubuh itu dilukai. Tiba-tiba kita merasa berada di sebuah perjalanan bersama yang dicegat dengan kasar dan seperti hendak direnggutkan dari masa depan yang bisa memberi kita sedikit rasa bangga. Tiba-tiba kita takut kita akan tak bisa mengatakan, ”Saya datang dari sebuah negeri yang pelan-pelan membuat saya tidak malu lagi.”

Teror itu akhirnya memusuhi sesuatu yang lebih berarti ketimbang apa saja yang semula dimusuhinya—jika yang dimusuhi adalah ”Amerika”, atau ”Barat”, atau ”SBY”, atau ”demokrasi”, atau ”kehidupan sekuler”, atau apa pun. Ketika kita merasa seperti kehilangan sebuah republik yang dibangun bersama—dengan segala variasi yang tumbuh dalam bangunan itu—teror itu praktis memusuhi sebuah cita-cita sekian puluh juta manusia yang bebas. Ia memusuhi Indonesia.

Pada momen itu, kita sebenarnya bisa berkata: kita akan melawan. Pada saat itu, kita tahu, teror itu tak akan menang. Memang sejenak ia bisa bikin gugup, menyebabkan reaksi yang berlebihan, juga dari seorang presiden yang biasanya tenang. Tapi bom itu, teror itu, tak akan bisa mendapat lebih dari itu.

Di zaman ini, para teroris memerlukan pentas dan penonton. Ada panggung untuk mempertunjukkan akrobatik mereka. Ada penonton yang menyaksikannya dan merasakan dampaknya ke dalam hidup mereka, sejenak ataupun lama. Kengerian, kebuasan, dan kenekatan itu adalah bagian dari spectacle itu, seperti dalam sirkus. Tapi, apa sesudah itu?

Kita ingat 11 September 2001: sebuah pertunjukan spektakuler dengan pentas yang kolosal: dua pesawat berpenumpang penuh ditabrakkan ke dua gedung pencakar langit di Kota New York, pada sebuah pagi yang cerah. Sekitar 3.000 orang tewas. Teror adalah sebuah show dan sekaligus statemen. Tapi statemen itu tidak pernah jadi jelas, juga bagi jutaan penonton. Efeknya mengharu biru, tapi ia tak menyebabkan sang musuh (”Amerika”) bertobat atau runtuh. Teror akhirnya bukanlah untuk menggerakkan dukungan yang konsisten untuk perubahan. Teror tak punya daya transformatif. Teror bukan sebuah revolusi.

Dan ia juga tak bisa mengelak dari ”the law of diminishing return”. Tiap pertunjukan yang ingin menarik perhatian akan sampai pada suatu titik, di mana ia tidak bisa lagi jadi rutin. Ketika ia jadi rutin, diulang berkali-kali tanpa hasil yang berarti, kecuali membunuh sejumlah orang tak bersalah (bahkan ia tak bisa berpanjang-panjang membuat gentar), ia kehilangan lagi tujuannya.

Bahkan ia bisa kehilangan kejutnya. Dalam film Brazil Terry Gilliam, horor dan komedi bersatu. Adegan dimulai dengan sebuah etalase dan iklan televisi yang menawarkan pipa penghangat ruang. Seorang perempuan lewat dan sejenak, sebelum sebuah bom meledak. Tapi tak ada jerit. Tak ada sirene. Yang terdengar melodi Aquerela do Brasil dari Ary Barroso yang riang dan ringan. Teror telah demikian jadi bagian dari hidup sehari-hari dari sebuah kota yang terletak di sebuah zaman entah berantah. Dalam film tentang kekerasan selama 13 tahun itu (yang disebut oleh seorang pejabat sebagai ”keberuntungan sang pemula”) kita tidak tahu lagi apa sebenarnya yang diperjuangkan Archibald ”Harry” Turtle, sang superteroris, yang dalam film cuma muncul sejenak. Teror telah jadi seperti ”seni untuk seni”.

Kita belum sampai ke tingkat seperti komedi hitam Terry Gilliam, di mana yang seram dan yang sehari-hari membentuk sebuah dunia yang ganjil. Tapi agaknya para teroris akan mulai terbentur pada pertanyaan: apakah yang mereka lakukan sebenarnya—sebuah pertunjukan teror untuk teror? Sebuah pameran kepiawaian menghilangkan jejak, merancang operasi di tengah kesulitan, dan tak lebih dari itu?

Saya kira tak lebih dari itu. Dan ketika pertunjukan buas yang kehilangan tujuan itu berhadapan dengan sesuatu yang lebih berharga—sebuah harapan, sebuah ikhtiar untuk sebuah negeri yang aman dan demokratis—kita tahu siapa yang akan menang. Kita. Indonesia.

Goenawan Mohamad

26
Jul
09

Teroris Bisa Jadi Pahlawan, tapi…

Pengantar: Kali ini izinkan saya memuat berita menarik dari TEMPO interaktif tentang promosi doktor Hendropriyono di Universitas Gadjah Mada. Topik ini menarik karena kita sama-sama baru saja diguncang bom di JW Marriott dan Ritz Carlton.

Sabtu, 25 Juli 2009 | 15:47 WIB

TEMPO Interaktif, Yogyakarta – Di hadapan lima penguji dan tiga promotor, mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Hendropriyono menempuh ujian terbuka promosi doktor ilmu filsafat di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

hendroHendro dinyatakan lulus dan memperoleh gelar doktornya dengan predikat cum laude untuk disertasinya yang berjudul “Terorisme dalam kajian filsafat analitika: relevansinya dengan ketahanan nasional.”

“Saudara Hendropriyono memperoleh predikat cum laude oleh semua penguji dengan nilai yang sama dan tak terbantahkan,” kata Prof. Dr. Kaelan MS selaku promotor di Gedung Pasca Sarjana, Sabtu, (25/7).

Begitu dinyatakan lulus, Hendropriyono langsung menjura kepada para profesor yang mengujinya. Di kampus UGM ini dia tercatat sebagai doktor yang diluluskan UGM untuk ke-1.089 kalinya. Sementara di Fakultas Ilmu Filsafat, dia doktor yang ke-51.

Ujian dibuka dan dipimpin oleh Muhtasyar Syamsudin, Dekan Fakultas Filsafat.
Bertindak sebagai promotor dalam ujian terbuka adalah Prof. Dr. Kaelan MS, Prof Dr. Lasio dan Prof Dr. Djoko Suryo. Sementara selaku penguji, Prof. Dr. Syafii Maarif, Prof. Dr. Syamsulhadi, Prof. Dr. Koento Wibisono, dan Dr. Mukhtasar Syamsudin.

Ruang sidang berkapasitas sekitar 200-an orang hari itu bertabur bintang dan orang-orang penting. Hadir di antaranya mantan Wakabareskrim Mabes Polri Irjen Goris Mere, Ketua Umum Partai Golkar Dr Akbar Tandjung, Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad, mantan Gubernur DKI Sutiyoso, Ketua DPD RI Ginandjar Kartasasmita, mantan Ketua KPK Taufiqurahman Ruki, Letjen (Purn) Kiki Syachnakri, Mayjen Muchdi PR, dan mantan Ketua Mantiqi III JI Nasir Abbas yang menjadi narasumber Hendro dalam menyelesaikan tesisnya.

Prof Kaelan dalam sambutannya berharap dengan menyandang gelar doktor ini Hendropriyono bisa menyumbangkan tenaga dan pikirannya bagi negara, khususnya untuk meningkatkan intelijen negara. Apalagi Indonesia masih dibayangi-bayangi terorisme.

Disertasi yang disampaikan Hendro soal penyelesaian masalah terorisme, menurut Kaelan, menggunakan cara yang wisdom (bijak) dengan menggunakan kajian ilmu filsafat.

“Diharapkan dengan gelar doktor ini saudara bisa menyumbangkan tenaga dan pikiran, terutama kemampuan analisis intelijen bagi negara pasca kasus bom Hotel Marriott,” kata Kaelan.

Pada kesempatan itu, Kaelan juga menyatakan rasa herannya soal momentum bom dan studi Hendro yang saling berkaitan. Saat tercatat sebagai mahasiswa UGM, Hendro masuk pertama kali disambut dengan bom Bali II. Saat mau lulus disambut bom JW Marriott jilid II. “Saya tidak tahu apa ini tantangan atau analisa saudara jadi terbukti,” kata Kaelan yang disambut tertawa para hadirin.

Dalam menempuh studinya, Kaelan mengaku Hendro rajin datang dan tidak pernah diwakili oleh ajudannya. “Dia haus ilmu,” kata Kaelan. Menjelang ujian, Hendro bahkan bimbingan sampai pukul 02.00 dinihari.

Hendro sendiri mengaku kaget saat dinyatakan lulus dan mendapat predikat cum laude. Dia berharap UGM membuka cabang Ilmu Filsafat teror. “Saya rasa UGM menjadi universitas pertama yang memiliki jurusan ini,” kata dia.

Ketertarikannya mengkaji terorisme dalam ranah filsafat karena terorisme itu dalam sejarahnya tidak konsisten dalam opini publik. “Para teroris, pada suatu masa bisa menjadi pahlawan, tapi suatu saat bisa menjadi teroris, sehingga tidak konsisten,” katanya.

Dalam literatur pun sulit menemukan definisi terorisme. Menurut Hendro, terorisme, objek, dan subjeknya manusia, maka dari itu berangkatnya adalah dari pikiran manusia. Pikiran manusia itu bisa dibaca oleh manusia. “Meski susah membaca pikiran orang, tapi bisa kita pahami melalui kata-kata, baik lisan maupun secara tertulis. Karena itu saya mengkaji terorisme dengan metode filsafat analitika bahasa,” paparnya.

Menurut Hendro, bahasa yang digunakan dalam terorisme ternyata terbelah atas dua tata permainan bahasa, yaitu mengancam dan berdoa yang dipergunakan sekaligus. Tata permainan bahasa yang terbelah dalam terorisme itu menunjukkan bahwa teroris mempunyai kepribadian yang terbelah (split personality).




 

November 2009
M T W T F S S
« Oct    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Blog Stats

  • 17,555 hits

Flickr Photos

Loch Lomond

Noviembre

Urban myPhone

More Photos