03
Feb
10

SBY = Kerbau ?

Tentu saja judul di atas terlalu bombastis, bahkan mengada-ada. Masa iya presiden disamakan dengan kerbau.

Tapi kerbau, binatang berkaki empat yang biasanya berwarna abu-abu kehitaman, berbadan gemuk dan bergerak lamban itu sekarang ini memang menjadi binatang yang sangat populer. namanya sampai terbawa-bawa dalam rapat para petinggi republik ini. Malah sebuah rapat yang maha penting karena diikuti oleh semua gubernur dari seluruh Indonesia. Popularitasnya bahakan diyakini mampu menggusur popularitas “cicak” dan “buaya” yang tempoh hari sangat ngetop itu.

Adalah demonstrasi memperingati 100 hari pemerintahan SBY – Boediono, 28 Januari lalu, yang memopulerkan kerbau. Konon, sekelompok mahasiswa yang berunjukrasa menggiring seekor kerbau yang ditulisi “SBY”. Konon, kerbau itu dipakai sebagai lambang SBY yang malas dan lamban. Tapi anehnya pernyataan ini justeru keluar dari presiden, bukan dari para mahasiswa. Malah sebelum presiden berkeluhkesah pasal kerbau dan demonstrasi di Istana Cipanas, saya malah belum tahu kalau ada mahasiswa mengarak kerbau SBY dalam demonstrasi beberapa hari lalu.

Bagaimanapun sangat wajar jika presiden marah dirinya disamakan dengan kerbau. Memang agak keterlaluan. Tetapi betulkah kerbau adalah bianatang dungu dan nista. Goenawan Mohamad di dinding laman fesbuknya pagi ini menulis: “Dalam “Max Havelar”, Saijah, anak dusun yang dizalimi, bangga akan kerbaunya: hewan yang bisa kalahkan harimau. Hidup kerbau!” Jadi menurut penggambaran buku Max Havelar, kerbau itu binatang yang kuat sekaligus cerdik. Bagaimana mungkin ia bisa mengalahkan harimau kalau ia lamban dan dungu?

Masih dari dinding laman fesbuk, teman saya Putu Setia yang kini menetap di Bali menulis: “Jika ada hewan yang paling saya kagumi itulah: KERBAU. Di Bali (barat) dia dipakai menarik bajak karena kuat dan lamban disawah. Tapi, usai panen, dia perkasa dan berlari kencang dalam karnaval spektakuler “mekepung”. Dia rela mengorbankan nyawa untuk keselamatan manusia, tak ada ritual besar yang tanpa memakai kerbau….” Tak hanya itu, menjawab komentar saya Putu Setia masih menambahkan, “kerbau tak pernah jatuh di kubangan, dia mencari kubangannya sendiri karena tak mau merebut kubangan orang lain. Ini salah satu binatang soleh dari sekian banyak binatang religius. Seingat saya di Kraton Solo ada kerbau yang sampai dikeramatkan, meski saya tak setuju istilah itu.”

Jadi apakah dianalogikan sebagai harimau menjadikan kita lebih terhormat daripada diibaratkan kerbau? apakah diandaikan sebagai kancil, yang cerdik sekaligus pembohong, lebih menyenangkan daripada diibaratkan sebagai anjing?

Tetapi sebenarnya inti masalahnya, tentusaja, bukan pada titel perikebinatangan itu. Kegusaran presiden SBY terhadap hirukpikuk demonstrasi itulah pokok persoalannya. Rupanya, kesabaran presiden menghadapi gelombang demonstrasi yang tak habis-habisnya menggoyang pemerintahannya mulai menipis.

Sebagai seorang jawa, SBY memang tidak pernah “menggebuk” sesuatu secara langsung. Ia lebih suka cuci tangan, berlindung secara aman dan menggunakan tangan orang lain untuk menyelesaikan banyak hal. Lihatlah kasus KPK yang berbuntut “cicak dan buaya”.  Ia lebih suka membentuk Tim 9, yang kemudian berubah nama menjadi Tim 8, daripada menyelesaikan kasus itu secara langsung. Dengan begitu ia seolah-olah tetap bersih, dan apapun rekomendasi Tim 8 adalah bukan tanggungjawabnya, tetapi pendapat para ahli. Gonjang-ganjing Bank Century pun setali tiga uang. SBY lebih suka melempar bola panas itu ke beberapa sudut lapanagn ketimbang ia segera melokalisir permasalahan yang saya yakin akan lebih cepat terselesaikan.

Kembali ke masalah kerbau dan demonstrasi, sepertinya SBY ingin menggunakan tangan para penegak hukum (polisi, dll.) untuk ‘menertibkan” cara demonstrasi agar lebih santun. Inilah gaya “menggebuk” meminjam tangan yang saya maksud. Pesannya sudah jelas. Itu adalah pesan seorang raja Jawa yang berlindung di balik tatakrama dan kata-kata. Tinggal para kakitangan itu (kapolri, gubernur, dll.) segera menterjemahkan pesan itu di seluruh penjuru negei ini.

Menurut pandangan saya. Pesan SBY ini jauh lebih jelas dari pada pesan “Raja Jawa” terdahulu. Maksud saya Pak Harto. Kalau Pak Harto, para petinggi di sekelilinginya masih agak kerepotan penterjemahkan apa maunya Boss besar. Bahkan senyumannya, cara berdehemnya pun perlu penterjemah yang ahli. Bahkan menteri yang  siang dan malam selalu dekat dengan beliau pun bisa salah menterjemahkan “batuk”nya Pak Harto.

Kalau pesan SBY ini, selain jelas dan gamblang, meskipun dibumbui dengan pengormatan kepada iklim berdemokrasi dan budaya sopan-santun, tetaplah mempunyai implikasi jelas. Yaitu niat untuk mengurangi nilai kebebasan itu sendiri.

Saya juga sependapat dengan para penganalisis yang mengatakan pesan SBY ini bersayap. Ia tak hanya ingin “menggebuk” tetapi juga berkeluhkesah sekaligus. Jelasnya ia “jual penderitaan” seolah-olah menjadi korban yang selalu dizalimi. Saya setuju bahawa pemimpin yang suka jual penderitaan adalah pemimpin yang cengeng. Tetapi saya juga setuju bahawa untuk saat ini kita tidak memiliki pilihan selain menunggu hingga 2014 dimana proses demokrasi memungkinkan kita untuk memilih pemimpin yang baru.

Jadi entah memakai kerbau, tikus, atau kura-kura, toh demonstrasi terbukti berjalan dengan aman. Tak ada anarki. Tak ada kerusuhan. Biarlah mereka mengekspresikan diri, bahkan sendainya mereka membawa semua koleksi binatang dari Taman Safari. Sedikit humor dalam berpolitik saya rasa belum lah perlu di’gebuk”.

Didik Budiarto

01
Feb
10

Caping Goenawan Mohamad: “Atticus”

Senin, 01 Februari 2010

PENDUDUK kota kecil itu, Maycomb, bukan orang yang keji, tapi ada sesuatu yang menakutkan di pengadilan itu. Tom Robinson tak terbukti bersalah, tapi hampir seluruh penduduk bersepakat dengan diam-diam atau berteriak: Tom harus dihukum mati.

Dan para juri memutuskan ia memang telah memperkosa Mayella Ewell. Dan vonis itu dibacakan hakim. Dan Tom dimasukkan ke sel penjara, menunggu, tapi putus asa, mencoba melarikan diri, dan ditembak mati.

Novel terkenal To Kill a Mockingbird, ditulis oleh Harper Lee dan terbit pada 1960, mungkin akan selalu mengingatkan kita bahwa ketidakadilan dapat dilakukan atas nama keadilan bagi orang banyak. Orang banyak itu penduduk kulit putih yang tak ingin dipermalukan seorang buruh kulit hitam, justru karena si negro tak bersalah dan dengan demikian ayah dan ibu si gadis yang bersalah, berdusta—dan bukan cuma itu, sebab dari pengadilan itu tampak bahwa Mayella itu yang mencoba merayu Tom, bukan sebaliknya.

Pengacara yang lurus hati itu, Atticus Finch, telah ikut mempermalukan mereka. Ia, duda yang senantiasa berpakaian lengkap itu, seharusnya di pihak orang ramai, kaumnya, sebab ia juga berkulit putih. Tapi tidak. Atticus Finch memutuskan untuk membela Tom Robinson. Tanpa dibayar. Tanpa ragu meskipun ia harus menghadapi para tetangganya, bahkan disesali kakak kandungnya sendiri. Dan meskipun ia tahu ia tak boleh banyak berharap, dari sebuah mahkamah di kota di pedalaman selatan Amerika, untuk melihat seorang hitam sebagai sesama manusia.

”Kasus ini,” kata Atticus Finch kepada anaknya, ”kasus Tom Robinson ini, sesuatu yang merasuk ke hati nurani, Scout. Aku tak akan sanggup pergi ke gereja dan menyembah Tuhan jika aku tak menolong orang itu.”

Apa sebenarnya yang disebut ”hati nurani”, kita tak tahu. Tapi ada dorongan untuk kurang-lebih tak palsu. Atticus Finch mungkin bukan seorang yang tiap kali membaca Injil, tetapi ia merasa harus ada hakim yang terakhir, sebuah kekuatan yang tahu persis kebenaran dan keadilan, ketika manusia begitu galau, tak tahu persis apa yang terjadi, tapi ikut berteriak-teriak, ”Salibkan dia!”

Atticus dimusuhi tetangganya. Di luar gedung pengadilan, seseorang datang, dan meludahi mukanya. Orang itu Ewell, ayah Mayella, pemabuk yang suka memukuli anaknya sendiri.

Dan Atticus berkata, ”Nah, kalau meludahi mukaku dan mengancam-ancamku dapat menyelamatkan Mayella dari pukulan tambahan, aku dengan senang hati menerima diludahi.”

Di kota kecil Maycomb yang sedang menanggungkan depresi ekonomi, ketika orang dirundung cemas, Atticus Finch berdiri: ia jadi merasa kuat, justru ketika ia merasa bahwa yang ditanggungkannya bukan apa-apa jika dibandingkan dengan Mayella yang dipukuli dan Tom yang difitnah dan dizalimi oleh kekuasaan yang seharusnya melindunginya.

Goenawan Mohamad

18
Jan
10

Caping Goenawan Mohamad: “Januari”

Tiap generasi ingin punya revolusinya sendiri. Di bulan Januari.15 Januari 1974. Jakarta guncang, tegang, dan suasana menakutkan. Ribuan orang berdemonstrasi, menyusuri jalan, membakar puluhan mobil dan ratus­an sepeda motor, membumihanguskan pusat belanja di kawasan Senen (yang waktu itu termasuk megah), dan merusak apa saja yang memakai logo perusahaan Jepang. Sudah beberapa lama sebelumnya—pada masa ketika pers belum dijerat ketat oleh penguasa—para aktivis mahasiswa dan intelektual menyuarakan kecaman mereka kepada modal Jepang. Dan hari itu aksi massa meledak.

Revolusi? Mungkin itulah yang dibayangkan para pelakunya. Tapi, bagi saya, hari itu yang terjadi sebuah laku tanpa ide. Terbiasa membaca Lenin, saya cenderung melihat ”revolusi” sebagai langkah untuk perubahan radikal yang bukan hanya disertai aksi massa, tapi juga berkait dengan sebuah ”teori” atau gagasan yang tak cuma datang dari batok kepala, melainkan dari benturan dengan keadaan.

Revolusi Lenin bahkan bertolak dari telaah tentang keadaan sosial dan ekonomi. Dari telaah itu disusun ”program umum” dan ”program khusus”. Dalam strategi dan taktik itu perebutan kekuasaan politik jadi soal penting. Jelas juga pihak yang akan memimpin, jelas pula sistem politik & ekonomi yang akan diterapkan. Revolusi Oktober 1917 di Rusia jadi teladan.

Revolusi Prancis memang tak tampak berangkat dari ”program” apa pun, tapi, seperti dikatakan Lenin, itu juga sebuah revolusi besar: dengan itu dasar baru masyarakat diletakkan dan tak bisa diubah lagi. Perebutan kekuasaan—sang raja dipenggal—bahkan jadi tanda zaman baru: tak ada lagi yang kekal di takhta itu.

Revolusi Prancis juga tak hanya meletus dari konflik sosial, dan sebab itu melibatkan orang ramai. Ia sambungan cita-cita yang lahir dari konflik sosial itu, yang dirumuskan oleh para pemikir dan disaripatikan dalam semboyan liberté, egalité, fraternité.

Dengan sedikit penyesuaian, kita bisa mengatakan, yang terjadi di tahun 1945 di Indonesia (dan 17 Agustus hanya salah satu penanda waktu yang penting) juga sebuah ”revolusi”. Sebab sejak itu, sejak kekuasaan berpindah tangan dari Hindia Belanda dan Jepang, Indonesia tak bisa ditarik kembali ke kerangkeng kolonialisme. Bertahun-tahun sebelumnya, gagasan tentang sebuah bangsa dicanangkan dan sejak 1945 bangsa itu bersedia mati untuk merdeka. Dari kancah mereka yang bersedia mati itu Pramoedya Ananta Toer, dalam Di Tepi Kali Bekasi, bersaksi tentang sebuah ”epos revolusi jiwa”. Revolusi: awal transformasi yang tak dapat dibalikkan.

Januari 1966. Saya tak tahu bagaimana keadaan waktu itu. Saya tak ada di Indonesia. Dari sebuah kota kecil di Eropa saya hanya dapat kabar secara sporadis (antara lain dari surat-surat almarhum Soe Hok Gie, salah satu aktivis yang militan masa itu) tentang aksi mahasiswa yang tak henti-hentinya.

Sekembali di Tanah Air, saya kemudian tahu bahwa ada kerja sama para mahasiswa itu dengan militer; ada pembantaian dengan korban para anggota PKI atau yang dicurigai jadi pendukung. Ya, ada hal-hal yang mengerikan dan busuk. Pelan-pelan tampak bahwa militer mengambil alih gerak perubahan politik yang dipelopori mahasiswa ke arah sebuah rezim baru yang antidemokrasi. Tapi membaca surat kabar waktu itu, terutama Kompas dan Ha­rian Kami, saya bisa tahu, ada hasrat demokratisasi yang kuat di tahun 1966, ketika para aktivis merobohan sistem ”demokrasi terpimpin” Bung Karno. Suara untuk mengukuh­kan hak-hak asasi manusia terdengar nyaring, usaha me­negakkan kemerdekaan pers dan rule of law serius.

Apa yang dicita-citakan itu kemudian memang dikhia­nati. Namun yang terjadi bukan hanya kemarahan. Juga bukan hanya rencana per­ubahan kekuasaan. Yang terjadi adalah gerakan untuk gagasan yang datang dari mulut yang tercekik, perut yang tak tenang. Setelah 1966, demokrasi memang dibalikkan jadi kediktatoran, tapi ada yang sejak itu tak dapat dibalikkan lagi: sistem ”ekonomi terpimpin” ditinggalkan—30 tahun lebih sebelum Cina dan Vietnam meninggalkan sistem ”ekonomi sosialis”.

Revolusi? Mungkin ya, mungkin bukan. Kata itu barangkali tak disebut. Tapi ia punya pukaunya sendiri: dalam historiografi populer Indonesia, ”revolusi” dikaitkan dengan sepatah kata yang ganjil tapi mempesona: ”angkatan”. Kata ini tak jelas asal-usulnya dan sebetulnya membingungkan maknanya. Namun ia dipakai terus. Ia berarti ”ge­nerasi”, tapi ia mengandung juga kesan ”perjuangan” dan ”kekuatan” yang gagah (yang juga kita temukan dalam ”angkatan bersenjata”). Maka ”Angkatan ’45” disebut, dan orang pun latah: ”Angkatan ’66” menyusul.

Untung, setelah 15 Januari 1974, tak ada lagi yang ditahbiskan dengan sebutan ”angkatan”. Peristiwa yang disebut ”Malari” itu tak punya dampak sosial yang berlanjut. Bahkan bisa disebut, amuk hari itu hanya bagian sebuah operasi intelijen, selapis tabir untuk menutupi konflik antara para jenderal pendukung Soeharto, lengkap dengan dusta dan propagandanya—sebuah fragmen sejarah yang kelak perlu lebih jelas diungkapkan.

Tapi bahwa itu terjadi, di sebuah Januari, menunjukkan betapa mudahnya revolusi ditiru. Meskipun harus dicatat: revolusi seperti puisi: sekali dilahirkan, ia tak bisa diulang. Amarah yang meledakkannya dan gairah yang menyertainya tak bisa cuma repetisi. Tiap usaha mengulangnya akan tampak sok-pahlawan dan absurd. Saya teringat kalimat Marx dalam Brumaire Ke-18 Louis Bonaparte—dan di sini saya ubah sedikit: ”Kejadian besar dalam sejarah bisa diulangi; kali pertama berupa tragedi, kali kedua berupa banyolan.”

Goenawan Mohamad

14
Jan
10

Ayin, Susno, Century….

Tayangan reality show sesungguhnya sedang bisa kita nikmati hari-hari terakhir ini.

Seandainya AGB Nielsen, lembaga yang seolah-olah memonopoli penentuan rating acara televisi di republik ini, melakukan survey, mungkin acara macam “Termehek-mehek” akan tergusur dari layar televisi. Ya, reality show itu faktual, bukan bohong-bohongan macam “termehek-mehek”.  Yang saya maksud dengan reality show itu adalah tayangan yang, sebenarnya, masuk ranah berita. Berita mengenai pelbagai kasus ‘panas’ yang sedang mendapat perhatian dan rating tinggi.

Sebenarnya bukan hanya perkara Ayin, Susno dan Century. Negeri kita yang maha luas, konon, hingga lebih dari 17 ribu pulau, dengan penduduk yang, kononnya lagi, sudah lebih dari 250 juta orang, ini memang kaya ‘bahan’ tanpa skenario bagi acara reality show buat televisi kita. Sebutlah bencana alam yang sambung-menyambung tiada henti. Dari gempa hingga banjir dan angin ribut. Semuanya bisa disajikan dengan memikat, real time, dan tentu saja menguras airmata melebih acara “bedah rumah”.

Ketika bekas presiden ke 4, Abdurrahman Wahid, meninggal dunia pun televisi kita berlomba mengacarakan reality show dari RSCM, upacara pemakaman, bahkan hingga hari ke 7 acara tahlilan. Lengkap dengan analisis dan wawancara keluarga. Sebelumnya, kita juga sudah disuguhi reality show pasal “buaya dan cicak” yang tak kalah hebohnya. Juga reality show yang ada sedikit bumbu porno dari persidengan Antazari Azhar. Yang terakhir ini belum selesai tayang. Entah akan sampai ’season’ berapa.

Dari ruang mahkamah itu pula kita memperoleh “kisah carangan”, meminjam istilah penceritaan di dunia pakeliran, sebuah kisah lain tentang Mayor Jenderal Polisi Susno Duaji. Lakon “Susno Mbalelo” atau “Susno Gugat” akan saya tulis di bagian lain. Belum lagi drama ini redup, muncul pula kisah penjara mewah Ayin (Arthalita Suryani). Potret rumah tahanan dan penjara kita yang luar biasa karut maut.

Pelbagai reality show itu terus terang sudah menyihir jutaan penonton untuk tetap setia di depan layar televisi. Termasuk saya tentunya. Jujur saja, beberapa hari terkahirr ini saya tersihir tayangan reality show dari ruang sidang Pansus Bank Century di DPR RI. Tontonan yang luar biasa memikat.

Saya tak hendak mengomentari esensi sidang Century Gate di DPR. Tetapi bahwa ada pergeseran cara menayangkan berita dengan kebebasan yang luar biasa terbuka, membuat kita mempunyai cara baru dalam hal menikmati tontonan berita dan memaknai demokrasi. Tak pernah terbayangkan sebelumnya, bahwa reformasi akan membawa kita ke tahap seperti ini.

TV One dan Metro TV, dua televisi privat yang memang melabeli dirinya sebagai televisi berita tentu saja memperoleh roh baru dengan situasi ini. Tinggal lagi mereka perlu berpikir bagaimana mengemas reality show itu menjadi tayangan yang lebih dan lebih menarik lagi.

Setelah dua hari berturut-turut saya menikmati tayangan “Century Gate” yang menghadirkan wakil presiden Boediono dan menteri keuangan Sri Mulyani, hari ini saya sudah menyiapkan kopi terbaik dan beberapa cemilan untuk menonton bekas wakil presiden Jusuf Kalla. Saya yakin, ini tak akan kalah menarik dengan acara nonton bareng Piala Dunia di Afrika Selatan beberapa bulan lagi.

Barangkali perlu juga survey, apakah penjualan kacang garuda tidak melonjak di tengah maraknya reality show yang saya sebutkan tadi? Siapa tahu kacang tak hanya asyik untuk menemani acara nonton bola, tapi juga asyik untuk menemani acara menonton reality show? Acara ini bisa berdurasi sangat panjang loh. Dari pagi hingga subuh!

Didik Budiarto

*foto: Mayjen Pol. Sosno Duadji (Media Indonesia)

12
Jan
10

Caping Goenawan Mohamad: “Gus Dur”

Senin, 11 Januari 2010

Ketika Mahatma Gandhi wafat, ia yang selama hidupnya antikekerasan dimakamkan dengan upacara militer. Ironis, mungkin juga menyedihkan: bahkan seorang Gandhi tak bisa mengelak dari protokol kebesaran yang tak dikehendakinya.

Seorang tokoh besar yang wafat meninggalkan bekas yang panjang, seperti gajah meninggalkan gading. Kadang-kadang ia hadir sebagai ikon: sebuah tanda yang memberikan makna yang menggugah hati karena melebihi kehendak kita sendiri. Kadang-kadang sebagai simbol: sebuah tanda yang maknanya kita tentukan, tak perlu menggugah hati lagi, namun berguna untuk tujuan kita yang jelas.

Sebuah ikon adalah sebuah puisi. Sebuah simbol: alat. Keduanya saling menyilang tak henti-hentinya.

Pahlawan mati hanya satu kali, kata orang hukuman dalam lakon Hanya Satu Kali, yang disebutkan sebagai terjemahan sebuah karya John Galsworthy tapi yang tak pernah saya ketahui yang mana.

Gus Dur bisa disebut seorang pahlawan: ia tak akan meninggalkan kita lagi, begitu jenazahnya dikuburkan. Terutama ketika yang hidup tak akan meninggalkan apa yang baik yang dilakukannya.

Tapi dalam arti lain pahlawan mati hanya satu kali karena ia tak lagi bagian dari kefanaan. Tak lagi bagian dari kedaifan. Tak lagi bagian dari pergulatan untuk menjadi baik atau bebas yang membuat sejarah manusia berarti.

Hanya dalam pergulatan itu, Gus Dur tampak sebagai yang tak sempurna, tapi melakukan tindakan yang sesederhana dan semenakjubkan manusia: dari situasinya yang terbatas ia menjangkau mereka yang bukan kaumnya, melintasi gerbang dan pagar, jadi tak berhingga, untuk menjabat mereka yang di luar itu. Terutama mereka yang disingkirkan, dicurigai, atau bahkan dianiaya: bekas-bekas PKI, minoritas Tionghoa, umat Ahmadiyah. Kita tahu ia melakukan itu dengan nekat tapi prinsipiil keberanian yang hampir tak terdapat pada orang lain.

Saya dan Romo Mangun berbeda agama, tapi satu iman, kata Gus Dur suatu kali.

Iman bagi Gus Dur bukanlah sebuah benteng: sebuah konstruksi di sebuah wilayah. Benteng kukuh dan tertutup, bahkan dilengkapi senjata, untuk menangkis apa saja yang lain yang diwaspadai. Bangunan itu berdiri karena sebuah asumsi, juga kecemasan: akan ada musuh yang menyerbu atau pecundang yang menyusup.

Iman bagi Gus Dur bukanlah sebuah benteng, melainkan sebuah obor. Sang mukmin membawanya dalam perjalanan menjelajah, menerangi lekuk yang gelap dan tak dikenal. Iman sebagai suluh adalah iman seorang yang tak takut menemui yang berbeda dan tak terduga. Terkadang nyala obor itu redup atau bergoyang, tapi ia tak pernah padam. Bila padam, ia menandai perjalanan yang telah berhenti.

Saya membayangkan Gus Dur tak pernah berhenti.

Ada sebuah nyanyian Fairouz yang digemari Gus Dur, dikutipkan oleh Mohammad Guntur-Romly, bersama liriknya. Petilannya, saya coba terjemahkan:

Pernahkah kau terima hutan seperti aku terima hutan, sebagai rumah tinggal, bukan istana

Pernahkah kau buat rumput jadi ranjang dan berselimutkan luasnya ruang,

merasa daif di hadapan yang kelak, dan lupa akan waktu silam yang hilang

Sering saya berpikir kenapa Gus Dur dengan tanpa ragu tak ikut mengutuk novel Salman Rushdie, The Satanic Verses.

Saya duga karena ia menemukan dalam novel itu empat unsur yang tak terpisahkan: kenakalan, kecerdasan, provokasi, dan humor.

Gus Dur tak keberatan dengan keempat unsur itu karena ia yakin Tuhan tak sama dengan mereka yang terusik oleh kenakalan dan humor. Saya kira Tuhan bagi Gus Dur bukanlah Tuhan yang terbayang dalam Perjanjian Lama, Tuhan yang menggelisahkan puisi Amir Hamzah: Tuhan yang ganas dan cemburu.

Yang ganas dan cemburu akan menampik kenakalan dan humor. Tuhan yang antihumor itulah yang diyakini Jorge, kepala biara dalam novel Umberto Eco, Il nome della Rosa. Di biara Italia abad ke-14 itu beberapa rahib ditemukan tewas. Kemudian diketahui bahwa mereka telah terkena racun ketika membuka sebuah buku terlarang di dalam perpustakaan; sebuah buku tentang tertawa.

Satu paragraf yang tak terlupakan: Mungkin misi mereka yang mencintai umat manusia adalah untuk membuat orang menertawakan kebenaran, untuk membuat kebenaran tertawa, sebab satu-satunya kebenaran terletak dalam belajar membebaskan diri kita dari kegandrungan gila-gilaan kepada kebenaran.

Saya lebih bangga punya seorang Gus Dur yang bukan presiden, ketimbang seorang Gus Dur di atas takhta.

Betapapun keinginannya, ia tak pernah cocok di sana. Sebab ia bagian yang wajar dari sesuatu yang bagi saya sangat berhargaketidakmauan untuk tunduk kepada yang kuasa dan yang beku semacam anarkisme yang jinak dan jenaka.

Seorang intelektual publik terkadang yakin bahwa memasuki kehidupan politik (dan memperoleh kekuasaan) itu perlu. Yang sering dilupakan ialah bahwa yang perlu belum tentu yang niscaya, dan bahwa politik, sebagai panggilan, sebenarnya sebuah panggilan yang muram, sedih.

Dalam kesedihan itu kita seharusnya bertugas.

Goenawan Mohamad

10
Jan
10

Ayin, Penjara yang mewah.

Malam belum larut, hari Ahad pun belum lagi habis. Malah jarum jam baru menunjuk di angka 7.30

Ayin tadi malam tengah sibuk dengan dokter giginya, dr Hadi Sugianto, seorang ahli laser kosmetik dari klinik spesialis Tribrata, manakala kamar mewahnya di rumah tahanan Pondok Bambu didatangi Satgas Pemberantasan Mafia Hukum. Pasti saja wajah Ayin langsung pucat. Perempuan bernama asli Artalyta Suryani itu pastilah terkaget-kaget didatangi tamu istimewa itu. Tapi bukan hanya Ayin yang kaget, 3 anggota Satgas; Mas Achmad Santosa, Denny Indrayana dan Yunus Hussein tak kalah terperanjat.

Kamar tahanan Ayin luar biasa mewah. Luasnya kira-kira 80 meter persegi. Ia mirip sebuah apartemen. Ada AC, sofa kulit berwarna hitam, meja kerja, dapur, televisi, kulkas  dan, tentu saja, ruang tidur dengan bed set yang nyaman. Di bilik itulah tadi malam Ayin tengah dirawat giginya ketika petugas datang.

Sebenarnya, kamar tahanan Ayin memang bukan di situ. Ruang tadi, menurut pengakuan Ayin hanyalah semacam kantor pribadinya. Ia masih mempunyai sebuah ruangan lagi yang sejatinya adalah bilik tahanannya yang resmi. Tapi, masyaallah, ruangan itu juga tidak kalah mewahnya. Udara sejuk berhembus dari AC yang disembunyikan di dalam lemari. Selain ada spring bed berukuran besar, di sini juga dilengkapi televisi layar datar. Di sini Ayin tidak sendiri. Ia bersama seorang teman napi, perempuan yang lebih tepat disebut ‘pembantu’ Ayin di tahanan.

Bukan hanya Artalyta yang malam itu tertangkap basah mendapatkan fasilitas supermewah di penjara. Beberapa lagi juga mendapatkan pelayanan bak di hotel berbintang. Malah ada kamar tahanan yang dilengkapi stereo sets untuk berkaraoke dengan ruangan berperedam suara. Yang ini jauh lebih wah dari kamar Ayin.

Berapa Artalyta, juga yang lain, harus membayar semua kemewahan itu?

Sebenarnyalah, ini adalah potret lembaga pemsyarakatan kita yang korup. Tapi itu bukan hal baru. Kasus serupa juga terjadi di pelbagai tempat. Cerita napi yang mendapat perlakuan istimewa sudah sering kita dengar. Dari kasus Tommy Soeharto, hingga bandar narkoba. Atau kasus para napi berhandphone dan berjudi di Sumatera Utara minggu lalu.  Semua kejadian itu adalah cerminyang secara sahih mengatakan bahwa kita tidak pernah belajar memperbaiki keadaan.

Terlalu banyak kasus yang sering kita bahas mengenai borok dan rapor buruk di sana. Tetapi barangkali benar, penjara kita adalah cermin dari kehidupan bangsa ini yang luar biasa amburadul.

Bagi Artalyta, yang ketika masih di luar saja mampu ‘menaklukkan’ para petinggi Kejaksaan Agung, apalah susahnya ‘menaklukkan’ kepala rumah tahanan Pondok Bambu, Sarju Wibowo, dan anak buahnya?

Betul-betul amburadul!

Didik Budiarto

06
Jan
10

Gus Dur, Semar dadi ratu…

Foto Kenangan: Presiden Abdurrahman Wahid bersama kru TV3 Malaysia sesaat selepas wawancara eksklusif di Istana Merdeka.

“Kita tidak harus mempersamakan yang berbeda, tetapi kita juga tidak perlu membuat beda apa yang sudah sama.” (Abdurrahman Wahid)

Saya tidak pasti apakah lakon semar dadi ratu itu pernah ada di kisah pewayangan Mahabarata. Bahkan di lakon carangan sekalipun.  Justru yang saya tahu, dan saya hafal urutan ceritanya adalah lakon “Semar mbangun kahyangan.”

Tetapi saya rasa itu tidak begitu penting. Toh mbangun kahyangan, dalam dunia pewayangan, ia sama saja menjadi ‘ratu’, malah menjadi ‘ratu’-nya para dewa.

Saya tergelitik untuk menulis, sekali lagi, pasal Gus Dur, karena tadi malam adalah tahlil hari ke tujuh. Maknanya sudah 7 hari kita ditinggal almarhum Abdurrahman Wahid. Tapi antusiasme rakyat tak pernah surut. Tak hanya di rumah kediamannya di Ciganjur, Jakarta, tetapi juga di kota-kota lain dan, terutama, di Jombang tempat almarhum dikebumikan.

Butet Kartarajasa pernah berseloroh, ketika Abdurrahman menjadi presiden, itu adalah sebuah kekeliruan sejarah. Karena Gus Dur, yang ia ibaratkan sebagai seorang punakawan bernama Semar, tempatnya bukan di istana. Punakawan harusnya  tetap ada di tengah-tengah rakyat. Untuk ngemong, dan menjadi guru yang mengajarkan mengenai segala hal.

Analogi Gus Dur sebagai Semar menurut saya sangat pas. Kita tahu di jagat pewayangan ada empat punakawan: Kiai Semar Bodronoyo dan ketiga anaknya; Gareng, Petruk dan Bagong. Sebenarnya ada dua lagi yang berhak disebut sebagai punakawan, ia adalah Togog dan Mbelung Soroito. Tetapi yang terakhir ini memang bukan diciptakan sebagai punakawan kebenaran karena ia selalu menjadi pamomongnya angkaramurka.

Punakawan adalah seorang abdi, yang secara total mempersembahkan hidupnya untuk melayani para bendoronya. Dalam hal Semar dan anak-anaknya, ia mengabdikan dirinya kepada para kesatria kebajikan, dari Polosoro hingga Pandawa dan Parikesit.

Gus Dur adalah Semar itu. Ia adalah guru bangsa dalam arti yang sebenar-benarnya. Ia mengajarkan tentang segala hal. Dari cara berrpikir terbuka, memaknai demokrasi, dan bagaimana mensyukuri perbedaan. Ia adalah ulama yang dilahirkan oleh keluarga ulama, dididik dan dibesarkan di lingkungan ulama, dan beliau pun mati sebagai ulama.

Sungguh menggetarkan manakala menyaksikan bagaimana puluhan ribu pelayat berebut menyentuh peti matinya yang diselimuti sang saka Merah Putih, dan harus diusung berantai di atas kepala ribuan umat. Pun sungguh mengharukan melihat bahwa hingga hari ke delapan ini masih banyak pegagumnya yang rela datang dari jauh dan antre untuk menziarahi makamnya. Itu adalah sebuah pengakuan akan ketokohan seorang Abdurrahman.  Itu adalah pengakuan yang datang tanpa paksaan. Itu adalah pengakuan bagi sang guru dan sang pahlawan.

Semar itu, mungkin memang salah ketika masuk istana dan menjadi raja (presiden). Barangkali benar itu menyalahi pakem. Tetapi itulah memang kehendak Sang Dhalang, dan kehendak Sang Dhalang pula yang mengatur ketika Semar lengser keprabon ia tidak sertamerta kehilangan kehormatan dan penghormatan.

Kini Semar itu telah kembali ke kahyangan. Ia tidak perlu lagi membangun kahyangannya sendiri, karena kahyangan itu sudah tersedia bagi ulama beriman yang sudah pula disejajarkan dengan para wali.

Ketika sang dalang menutup lakon di pagi subuh, tancep kayon, kisah sang Semar tidak lantas terhenti. Terutama pemikirannya yang tetap akan hidup untuk lakon-lakon lain di pakeliran yang berbeda pula.

Didik Budiarto

05
Jan
10

Caping Goenawan Mohamad: “Usinara”

Senin, 04 Januari 2010

ALKISAH, seekor burung deruk yang luka terbang, panik, ketakutan, dan putus asa. Di belakangnya seekor lang memburu. Terdesak, deruk itu pun menerobos masuk lewat sebuah tingkap, dan terjatuh di sebuah bilik yang lengang.

Di ruang puri itu, Raja Usinara sedang duduk, membaca, hanya ditemani dua orang abdi.

Burung malang yang terlontar di kaki baginda itu berkata, ”Tolonglah saya!” Suaranya lamat-lamat.

Usinara melihat tubuh unggas itu berdarah. Burung itu pun diangkatnya, dan disuruhnya salah satu abdi membawa air dan obat. Ketika ia bersihkan luka itu dengan hati-hati, tiba-tiba terdengar suara yang membentak, berat dan gelap, dari arah jendela: ”Kembalikan ia kepadaku!”

Di bendul jendela itu dilihatnya seekor lang besar dengan pandang yang liar. ”Deruk itu milikku!” lang itu berkata. ”Aku telah berhasil menggigitnya: itulah tanda ia mangsaku. Hukum perburuan menentukan demikian. Berikan kembali ia kepadaku. Lihat, aku gemetar. Aku lapar. Sudah sepekan aku tak memangsa apa-apa.”

Untuk beberapa saat Usinara yang terkejut itu kehilangan kata-kata. Tapi akhirnya raja yang lembut hati itu—yang juga melihat bagaimana lang itu memang gemetar karena lapar—menawarkan sebuah jalan lain: ia akan memberikan daging apa saja yang diminta burung buas itu asal deruk itu dibebaskan.

”Kau bilang daging apa saja?”

”Ya, apa saja yang kau minta.”

Tak terduga-duga, lang itu berkata, ”Kau gantikan daging deruk itu dengan dagingmu sendiri.”

Usinara terhenyak. Ia sadar ia terjebak janji yang sulit. Tapi ia tak hendak ingkar. ”Berapa banyak?” tanyanya.

”Seberat tubuh deruk itu saja,” jawab si lang.

Maka dacin pun disiapkan dan belati yang tajam dihunus. Burung kecil itu pun ditimbang, juga kemudian daging dari tubuh Usinara yang dikerat. Dalam jumlah kati yang sama daging segar itu disajikan ke depan si lang, yang memakannya dengan lahap.

Tapi begitu serpihan daging terakhir lenyap di paruhnya yang menakutkan, burung buas itu berkata, ”Aku masih lapar.” Dan ia menuduh Usinara ingkar janji. ”Kau berdusta. Daging yang kau berikan pasti masih kurang dibanding dengan berat badan deruk mangsaku. Ia harus ditimbang lagi!”

Mendengar itu, Usinara pun menyuruh tubuh deruk itu diletakkan di dacin kembali. Ternyata benar: badan unggas itu jauh lebih berat dari semula. Bahkan hampir seberat tubuh sang raja.

Meski terkejut dan pucat, Usinara mengambil belati dan merenggutkan jangatnya sendiri, sepotong demi sepotong. Darah membasah di ruang itu. Tampak baginda menahan sakit, tubuhnya kian lama kian lemah, dan akhirnya rubuh….

Dalam kisah yang terselip di antara ribuan seloka Mahabharata ini (yang saya ceritakan kembali dengan variasi saya sendiri), Usinara tidak mati. Lang pemangsa dan mangsanya yang luka itu sebenarnya dewa-dewa; mereka datang untuk menguji amal sang raja….

Tapi bagi saya, kehadiran para dewa justru tak penting dalam kisah ini. Yang membuat kita terpukau ialah bahwa Usinara tak tahu apa yang akan terjadi dengan dirinya. Ia masuk ke dalam situasi itu begitu saja semata-mata untuk menyelamatkan seekor burung yang tak berdaya. Kisah Usinara adalah kisah pengorbanan diri yang radikal.

Dalam Mahabharata, tokoh Bhisma juga sebuah tauladan pengorbanan: putra mahkota itu berjanji tak akan naik takhta, juga tak akan kawin dan punya anak, demi kebahagiaan ayahnya. Tapi Bhisma telah meniadakan masa depannya untuk seorang yang sedarah. Usinara sebaliknya: ia berikan raga dan nyawanya untuk keselamatan makhluk lain yang tak ia kenal. Ia melakukan yang tak berhingga. Ia kerelaan tak berbatas.

Maka kita terpana—juga karena yang dilakukan Usinara sesuatu yang sama sekali baru. Keputusannya tak dianjurkan adat dan tak diatur hukum. Justru ia melampaui hukum, melebihi moralitas—dan mencapai dasar yang ”ethikal”, yakni semacam kebaikan budi, atau cinta kasih, yang memberikan segalanya, menanggungkan segalanya, demi liyan: bagi yang bukan bagian diriku, bukan kaumku, melainkan ia yang terpuruk di luar pintuku, yang tak kukenal—yang tak akan memberikan apa pun kepadaku, tapi terancam, ketakutan, tertindas, menderita.

Dan Usinara memberikan dirinya bukan karena patuh kepada aturan atau taat kepada Tuhan. Usinara tak dikendalikan pamrih, tak menuruti kalkulasi dosa & pahala yang sering dilakukan orang beragama dalam tata buku moral mereka. Lakunya adalah laku kemerdekaan.

Apa gerangan yang mendorongnya? Adakah imbauan dari yang ”ethikal” hanya terjadi pada tokoh dongeng? Mungkinkah kebaikan budi itu menggerakkan hati orang pada umumnya?

Tak setiap orang Usinara, tentu. Tapi dalam pengalaman manusia ada perbuatan yang, meskipun tak dramatis, paralel dengan yang dilakukan raja itu: satu hal yang menyebabkan kita berpikir, mengikuti postulat Kant, bahwa dalam diri manusia ada yang menyebabkan dirinya—dengan otonomi penuh, dengan kemauan bebas—menghormati dan mematuhi panggilan ”hukum moral”: diam-diam seorang wartawan menampik bayaran uang untuk menulis fitnah, menolak juga godaan untuk jadi pahlawan. Diam-diam seorang pejabat memilih diberhentikan ketimbang mematuhi perintah atasan yang melanggar hukum….

Tapi apa itu sebenarnya, dari mana datangnya das Faktum der Vernunft itu? Tak bisa dijelaskan. Faktum itu tak mungkin ditunjukkan di dunia empiris. Kita, kata Kant, hanya ”mengerti ketidakmungkinannya untuk dimengerti”.

Mungkin justru sebab itu kita takjub: Usinara tak bertolak sebagai ”aku” yang telah merumuskan apa itu kebaikan budi. Ia bukan ”aku” di pusat situasi. Kita takjub karena ia mengatasi keterbatasan dirinya justru ketika ia merasa, di saat yang konkret itu, imbauan makhluk yang terancam itu adalah segala-galanya.

Selebihnya, juga dirinya sendiri, hanya turahan.

Goenawan Mohamad

04
Jan
10

“Allah” milik siapa?

“Allah” milik siapa?

Saya terkenang sebuah kisah di sebuah kampung, di Bantul, Yogyakarta. Desa yang porak poranda karena baru saja digegar gempa yang mengorbankan ribuan rakyat dan menghancurkan ratusan ribu rumah penduduk.

Alkisah seorang kawan relawan dari Malaysia terperanjat setengah mati manakala melihat seorang penduduk muslim bersembahyang di bangunan gereja yang selamat. Mana mungkin? Itu pasti yang ada di benaknya. Meraka pasti akan lebih terkaget-kaget jikalau tahu bahwa di Indonesia ada bangunan khas yang didirikan untuk umat semua agama berdoa. Di bangunan yang sama, dengan bahasa dan cara yang berbeda. Apalagi menyaksikan pada perayaan hari Natal, yang turut mengawal gereja adalah pemuda-pemuda masjid dan anggota Anshor. Begitu pun sebaliknya, manakala hari raya Idhul Adha, banyak gereja dan kaum Cina turut menyumbang sapi atau kambing untuk hewan korban.

Peringkat pemahaman pasal hidup bersama antar umat beragama di Indonesia memang khas dan, bagusnya, sangat kuat. Ini ibarat sudah menjadi tradisi dan budaya, karenanya Indonesia melandaskan kehidupan berbangsa dalam satu kalimat “Bhineka Tunggal Ika” yang diikatkan di kaki lambang negara Garuda Pancasila.

Saya tak hendak mencampuri pandangan dan akidah kaum muslim di Malaysia, yang sekarang ini tengah heboh pasal penggunaan kata “Allah” di penerbitan intern sebuah gereja Katholik. Tentu pandangan mereka pun patut kita hormati. Tetapi saya hanya ingin membuat perbandingan, apakah mungkin hal yang sama terjadi di Negara kita?

Benar, Indonesia adalah Negara dengan penduduk muslim paling banyak di dunia. Tetapi Indonesia adalah Negara sekuler yang berlandaskan “Bhineka Tunggal Ika”. Dimana keberagaman diutamakan. Budaya mengormati dan menyuskuri perbedaan itu tumbuh sejak sebelum republik ini diproklamirkan. Begitu pun dengan agama dan kepercayaan. Ia tumbuh bersama dengan budaya lokal.

Kembali ke kata “Allah”. Kata sebutan untuk Tuhan itu di sini tak hanya digunakan oleh masyarakat Islam, tetapi sejak lama juga digunakan oleh pemeluk agama lain. Kristen dan Katholik bahkan menggunakan secara resmi di kitab sucinya. Bahkan kadang masih pula digabung menjadi “Tuhan Allah”. Bedanya, kaum non Islam melafalkan Allah bukan menjadi “Alloh”.  Ulama di Indonesia pun sejak lama menerima hal itu tanpa rasa keberatan.  Malah di kampung saya, Yogyakarta, nenek moyang saya sejak dulu kala menyebut Allah dengan panggilan khas “Duh Gusti” atau “Gusti Alloh”.  Apakah Allah akan marah dengan sebutan itu? Apakah kemuliaan Allah kan berkurang kalau asmanya disebutkan oleh orang yang “bukan” dan “belum” Islam? Selama ini baik-baik saja, kalau menurut istilahnya Thukul Arwana, “fine, fine saja.”

Memang, pernah sekelompok kecil Islam Fundamentalis di sini mau ikut-ikutan menggugat penggunaan kata “Allah” oleh kaum non muslim. Tetapi gerakan itu sama sekali tidak mendapat sambutan. Saya rasa, masyarakat muslim Indonesia bukan kurang arif soal beragama, bukan pula kurang murni keIslamannya. Tetapi mereka sudah lebih dewasa mengamalkannya.

Jadi, ketika saya membaca berita di AFP mengenai silang pendapat pasal penggunaan kata “Allah” oleh majalah Katholik di Malaysia, saya hanya bisa bersyukur itu tidak terjadi di Indonesia. Kalau itu berlaku di sini, berapa Koran, majalah, bulletin, buku, kitab suci, radio dan televisi yang harus kita tutup dan tuntut?

Didik Budiarto

02
Jan
10

Selamat Jalan Gus Dur…

A million candles for Gus Dur.

Ya, manakala gerimis membasahi tanah Jakarta di Sabtu malam, sejuta lilin berkerlip, berpendar, menghangati malam yang dingin. Tak hanya di Tugu Proklamasi, Jakarta, sejuta lilin yang lain juga disulut di pelbagai tempat di semua penjuru negeri. Ada Muslim, ada Kristiani, ada Budhis, ada kaum Hindu, ada pemeluk Katholik, ada pula Kong Hu Chu. Malah saya yakin banyak pula yang atheis. Semua berdoa dengan bahasa yang berbeda, dengan cara yang tak sama, tetapi maknanya serupa. Doa, yang mungkin dalam bahasa yang universal bermakna puja dan puji untuk kemuliaan Gus Dur yang baru saja pergi meninggalkan bangsa ini.

Abdurrahman Wahid memang buta, tetapi beliau mempunyai ketajaman penglihatan melebihi manusia normal. Mata hatinya pun mampu melihat kemuliaan orang-orang yang berbeda agama, berbeda suku, bahkan berbeda bangsa. Karenanyalah Gus Dur dicintai oleh semua pihak, umat segala agama. Karenanya pulalah ia diakui sebagai guru bangsa, bapak dari pluralism, tokoh yang selalu mengutamakan keberagaman. Dialah sejatinya pengawal bhineka tunggal ika yang sebenar-benarnya.

Gus Dur adalah pemimpin yang sangat rendah hati. Ia mau mencintai dan dicintai apa adanya. Itu, mungkin, adalah sifat bawaan Abdurrahman yang dibesarkan di kalangan santri yang sangat tradisional di Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang. Malah ketika Si Gus menjadi presiden, istana tetap terbuka bagi rakyat yang memakai kain sarung dan bersandal jepit mengunjunginya. Manakala Kiai ini berkuasa pulalah, wartawan di istana mempunyai kebebasan dalam berbusana. Tidak harus memakai setelan jas dan tercekik dasi.

Dalam masa pemerintahannya yang singkat, dua kali saya mewawancarai Presiden Abdurrahman Wahid secara eksklusif untuk TV3 Malaysia. Pertama di Istana Negara, yang kedua di Binagraha, kantor presiden yang masih berada di lingkungan istana. Serupa wawancara saya dengan presiden Indonesia lainnya, saya selalu menyapa dengan sebutan “Yang Mulia” atau kadang “Pak Presiden”. Tetapi sebelum wawancara dimulai, Abdurrahman memprotes saya, “Mas, kalau sudah panggil ‘Gus’ ya ‘Gus’ saja, nggak usah pakai ‘Pak’ segala….”  Rupanya, Gus Dur, yang ketika itu presiden, tetap mau disapa seperti biasa. Seperti wawancara-wawancara saya sebelum beliau dilantik sebagai orang nomor satu di republik ini. Gus adalah panggilan sayang yang kurang lebih maknanya abang, atau di Jawa mungkin mirip dengan panggilan ‘mas’. Tetapi ‘Gus’, adalah panggilan yang sangat khas, karena di sana juga terkandung makna kehormatan. Makna yang barangkali hanya tumbuh di lingkungan pesantren. Gus adalah panggilan sayang dan penuh hormat, biasanya, ditujukan kepada anak ulama atau pun pemimpin pondok pesantren.

Dalam sebuah wawawancara di rumahnya, di jalan Warung Sila, Ciganjur, juga untuk TV3, kepada Abdurrahman yang ketika itu belum menjadi presiden pernah saya ajukan pertanyaan pelik off the record: “Gus apa pandangan anda pasal kasus sodomi Anwar Ibrahim yang sekarang (saat itu) tengah menjadi berita besar di Malaysia?” Jawab Gus Dur: “………………………………”  Jawaban itu sungguh membuat saya terpana untuk beberapa saat. Karena saya paham, beliau adalah orang yang teguh mempercayai apa kata hatinya untuk menetapkan sebuah kebenaran atau pun kesalahan. Barangkali di sanalah bersemayam kekuatan seorang Abdurrahman. Ia memiliki sejuta telinga dan mata hati yang amat tajam.

Saya mengenal Gus Dur sejak saya masih sekolah, paling tidak saya mengenal beliau melalui tulisan-tulisannya. Saya semakin gemar membaca artikelnya, terutama yang dimuat di Majalah TEMPO atau ZAMAN, ketika saya mulai kuliah di Universitas Gadjah Mada. Buah penanya sungguh cerdas dan tajam. Semangat dan gayanya sebagai pluralis pun mudah dikenali. Ketika itu Si Gus belum buta, penglihatannya masih normal meskipun kemudian harus mengenakan kacamata yang sangat tebal. Si Gus juga penggemar sepak bola sejati. Artikelnya mengenai “World Cup” tak pernah saya lewatkan. Goal yang cantik dan tackling keras bisa dia tulis dengan jenaka. Ya Si Gus memang humoris sejati. Joke ala Gus Dur lucunya melebihi Sri Mulat. Makanya buku “Mati Ketawa cara Gus Dur” pun sangat diminati. Dan yang pasti, dari semua joke itu, Gus Dur selalu memaknainya dengan pesan yang kadang tak mudah dicerna.

Suatu ketika Gus Dur berkisah, “konon, ia dijemput malaikat untuk melawat ke surga dan neraka. Di surga, ia melihat banyak sekali kakek-kakek tua, lelaki-lelaki tak berdaya yang duduk berpelukan dengan perempuan-perempuan cantik. Ada Paris Hilton, ada Madona dan bintang filem porno Jepang Maria Ozawa (Miyabi).  Ia pun dibawa melawat ke neraka. Ternyata di sana situasinya sama. Banyak lelaki tua duduk dan berpelukan dan perempuan cantik. Di sana juga ada Paris Hilton, ada Madona, dan, konon, juga ada Maria Ozawa. Lalu apa bedanya?” Sejurus khalayak belum faham apa makna joke Si Gus, hingga ia menambahkan kalimat pendek, “Yang masuk surga kaum lelakinya, yang masuk neraka perempuannya…” Sungguh sebuah joke yang sangat ‘nakal’ penuh makna.

Selorohnya “begitu aja kok repot” terkenal ke segala penjuru negeri. Ia melambangkan Gus Dur yang tak pernah mau terpenjarakan aturan yang pelik. Kalau bisa dibikin mudah, mengapa harus dibikin susah? Si Gus juga pemaaf yang tiada bandingannya. Suatu ketika ia bercerita pasal bagaimana Amin Rais dan Megawati memaksa Abdurrahman “keluar” dari istana, tetapi selepas itu pula Gus Dur datang ke rumah Megawati tanpa dendam.

Si Gus juga berulangkali dikhianati orang-orang terdekatnya. Malah Brutus-brutus itu seolah tak habis-habisnya. Saya menyaksikan bagaimana seorang tokoh menangis tersedu-sedu memeluk kaki Gus Dur, tapi kemudian ia mengkhianatinya tanpa rasa malu. Tetapi Si Gus, konon, tak pernah mendedamnya. Bahkan juga kepada Brutus lain, Muhaimin Iskandar, yang notabene keponakannya sendiri. Yang telah merebut partai PKB yang Gus Dur dirikan dengan segala cara. Tapi, Si Gus, lagi-lagi tak memendam kemarahan hingga akhir hayat. Konon, sebelum beliau berpulang, Si Gus sering menelepon Muhaimin, malah kadang dimintanya menuntun atau menggendongnya.

Seorang kiai berpendapat lain pasal itu, Gus Dur sebenarnya tidak sedang benar-benar melawan keponakannya, tetapi ia tengah menguji kelayakan keponakannya untuk memimpin. Benarkah? Wallahualam. Tatapi seperti kata Jaya Suprana, Abdurrahman memang gemar sekali menciptakan masalah, meskipun barangkali maksudnya hanya sekadar “testing the water.” Malah, masih kata Jaya Suprana, ketika tengah duduk merenung di istana Si Gus tiba-tiba berkata, “Wah susah ini, mengapa tak ada masalah? Ayo kita bikin masalah supaya ramai….”

Ah, manakala sejuta lilin itu berkedip ditiup angin basah tadi malam, ia tetap berpendar, seolah ia tak rela mati tertiup angin. Seolah sehati dan serasa dengan tangan-tangan yang menyalakannya, yang tak rela kematian menghapus jejak perjuangan Si Gus. Bagai asa segala kaum yang menumpukan harapannya kepada si Gus. Semua seolah mau mengucap, Indonesia sejatinya masih memerlukan pengabdianmu. Entah, bila kami menemui penggantimu.

Selamat jalan Gus…

Didik Budiarto

02
Jan
10

Ekonomi sebagai panglima

Bocah kecil ini saya jumpai di kawasan Nagoya. Bukan di Jepang, tapi Nagoya pusat perniagaan yang kesohor di pulau Batam. Umurnya belum genap 2 tahun, bicaranya pun belum jelas. Tetapi ia sudah menjelajah jalanan kota Batam dari pagi hingga petang. Ia menembus panas berpayung awan,  diatas gerobak yang dikayuh ibunya untuk menjajakan minuman ringan dan puluhan bungkus rokok.

Saya benar-benar kehabisan kata-kata manakala memotret bocah ini. Saya tak tahu seperti apa masa depannya. Inikah program PNPM yang dibanggakan presiden kita? Tengoklah tulisan di papan belakang gerobak itu. Pemberdayaan Ekonomi seperti inikah yang setiap hari ditayangkan di layar televisi?

Saya tak ingin menulis banyak, selembar foto yang saya buat ini sudah cukup mewakili sejuta kata yang tersekat di kerongkongan saya.

Ya, akhirnya, ketika ekonomi menjadi panglima……

Didik Budiarto (sedang berada di Batam).

29
Dec
09

SOT of The Day: Any Yudhoyono: “Tak terpikirkan menggantikan SBY

Ibu Negara, Ani Yudhoyono, “Rasa-rasanya tidak terpikir di pikiran ibu untuk menggantikan Pak SBY suatu saat.” Hal itu dikatakan isteri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat menjawab pertanyaan salah satu siswa taruna dalam silaturahmi siswa-siswi SMA Taruna Nusantara Angkatan XX di Istana Negara. Pernyataan itu juga menepis pendapat pelbagai pengamat yang menyatakan bahwa Ani Yudhoyono berambisi mengikuti jejak Hilary Clinton yang bertanding memperebutkan kursi presiden AS selepas suaminya, Bill Clinton, lengser.

14
Dec
09

Caping Goenawan Mohamad: “Recehan”

Recehan

Senin, 14 Desember 2009

DI Jakarta yang macet, jalan menampik alasannya sendiri. Sejak Daendels membentangkan 1.400 km ”La Grande Route” di Jawa di abad ke-18, sampai dengan ketika dinas pekerjaan umum Republik Indonesia membuka jalur-jalur baru di abad ke-21, jalan diasumsikan sebagai ruang untuk mobilitas, peringkas waktu tempuh. Ia bagian dari arah dan gerak, dari dunia modern yang dinamis dan tak bergantung langsung pada alam. Tapi apa yang kita alami kini? Dengan lekas bisa Anda jawab: di Jakarta, jalan sama dengan kelambatan dan hambatan; jalan adalah bagian kota yang rentan pada gangguan alam. Jalan adalah lahan banjir.

Ada lagi yang menampik alasannya sendiri: mobil. Kendaraan ini berkembang biak dengan cepat. Dan dengan cepat pula mobil, sebuah tanda modernitas yang lain—teknologi dengan dinamika tinggi—telah terbalik posisinya: ia malah jadi simptom kesumpekan. Kita bisa hitung berapa meter persegi wilayah jalan yang diambil oleh satu mobil, dan berapa jadinya jika ada 500.000 buah jenis kendaraan itu, dibandingkan dengan betapa kecilnya bagian kota yang tersedia untuk penghuni baru itu. Saya gemar mengutip Hirsch di dalam soal ini: inilah kongesti, inilah ”batas sosial dari pertumbuhan (ekonomi)”.

Mungkin menarik untuk meneliti atau memperkirakan dengan rada persis bagaimana akibat kongesti ini bagi hidup kejiwaan. Berapa banyak orang makin naik tekanan darahnya jika tiap hari mereka terjebak macet dan harus menempuh jarak lima kilometer dalam satu jam, terutama sekitar pukul tujuh malam hari? Atau jangan-jangan telah berkembang sikap sabar yang tak terhingga?

Bagi saya, macet memang memberi kesempatan tidur lelap di jok mobil. Atau menulis sajak. Tapi saya tak tahu bagaimana orang lain memanfaatkan kemacetan itu—yang mengambil kira-kira tiga jam dalam hidupnya sehari, atau sekitar 18 jam seminggu, atau sekitar tiga hari kerja dalam sebulan. Yang agaknya jelas adalah implikasinya bagi kehidupan bersama. Kongesti itu—berjubelnya mobil di jalan-jalan Jakarta tiap hari itu—adalah sebuah gejala perpecahan sosial.

Kongesti mendorong orang untuk melihat orang lain yang di sebelah, di depan, dan mungkin juga di belakangnya sebagai pihak yang tak diinginkan. Kompetisi, bahkan antagonisme, berlangsung diam-diam (kadang-kadang dengan teriak: pakai mulut atau klakson). Menutup mata tidur juga bisa jadi sikap tak mengacuhkan orang yang di luar sana.

Kemacetan lalu lintas lantaran mobil juga akibat dari yang disebut Hirsch, dalam The Social Limits to Growth, sebagai ”the tyranny of small decisions”: keputusan individual yang tak bertautan satu sama lain dalam mengadakan transaksi di pasar. Jika saya membeli mobil, saya tak memikirkan apa dampaknya bagi kelancaran lalu lintas atau bagi bersihnya cuaca—hal-hal yang merupakan bagian kebersamaan.

Itu sebabnya, di jalan-jalan, masyarakat—yang biasa dibayangkan sebagai sebuah bangunan utuh—tak hadir. Polisi lalu lintas—jikapun ada—memperkuat raibnya keutuhan sosial itu, ketika ia menggunakan kekuasaannya untuk menarik uang sogok. Sebagaimana banyak orang menghayati mobil dan ruas jalan sebagai milik privat, polisi itu juga memberlakukan otoritasnya sebagai kekuasaan privat. Saya selalu mengatakan, korupsi adalah privatisasi kekuasaan yang didapat dari orang banyak.

Kita akhirnya melalaikan bahwa manusia selalu perlu barang dan jasa masyarakat yang, dalam kata-kata Marx, ”dikomunikasikan, tapi tak pernah dipertukarkan; diberikan, tapi tak pernah dijual; didapat, tapi tak pernah dibeli”. Di kemacetan jalan Jakarta, kita tak lagi bertanya, tak lagi peduli, di mana gerangan hukum, kelancaran, dan udara bersih.

Berangsur-angsur, tiap orang pun merasa bisa mengabaikan public spirit, moralitas, dan semangat untuk kepentingan publik.

Ada ikhtiar untuk menangkal kecenderungan itu dengan mengendalikan kapitalisme dari bahaya ”tirani keputusan-keputusan kecil”. Itulah inti dari ”kompromi Keynesian”, cara Keynes untuk menyelamatkan kapitalisme dari fragmentasi yang berkelanjutan. ”Kompromi Keynesian” mengakui bahwa tak semua bisa diserahkan kepada pasar. Diakui bahwa public spirit selamanya perlu.

Ketika zaman pasca-neoliberal kini ditinggalkan, ketika ”kompromi Keynesian” diangkat untuk dijadikan kebijakan lagi, timbul lagi keyakinan bahwa perilaku pasar tak bisa dijadikan teladan bagi seluruh perilaku sosial. Ada pengakuan bahwa kekuatan yang bukan-pasar (Negara dan para teknokratnya) harus—dan bisa—memiliki ketahanan untuk mengembangkan nilai yang berbeda, khususnya nilai yang tak membenarkan manusia memaksimalkan kepentingan diri.

Tapi benarkah asumsi yang tersirat dalam ”kompromi Keynesian” itu, bahwa para pejabat Negara yang jadi pengelola sistem sosial-politik dan ekonomi niscaya punya nilai tersendiri?

Kenyataannya di Indonesia, institusi yang berkuasa tak dengan sendirinya bebas dari ”tirani keputusan-keputusan kecil”. Di atas telah saya sebutkan korupsi sebagai privatisasi kekuasaan. Maka kita pun bertanya dengan murung: masih adakah tempat bekerjanya apa ”yang-sosial”, apa yang menampik nafsi-nafsi?

Mungkin jawabnya bukan di kantor pemerintah dan pos polisi di pojok perempatan. Mungkin jawabnya bukan di jalan-jalan yang macet di mana orang saling hendak menyisihkan. Jawabnya ada di dekat kita sendiri.

Ketika Prita didenda Hakim—yakni petugas Negara yang tak adil—kita secara spontan berduyun-duyun datang untuk bersama perempuan yang dizalimi itu. Kita datang dengan uang recehan—fragmen dari sebuah kesatuan yang tak tampak—yang justru menunjukkan sesuatu yang mengagumkan: kita belum menyerah kepada ”tirani keputusan-keputusan kecil”. Kita adalah bebrayan: sesama yang bisa punya saat bersama. Setidaknya sampai hari ini.

Goenawan Mohamad

05
Nov
09

SOT OF THE DAY: Syafii Maarif, “Orde Baru jilid 2″

“Saya khawatir sekarang ini mulai terjadi proses menghidupkan kembali Orde baru Jilid 2, yang bedanya hanya dikemas dengan kesantunan. Sekarang, sepanjang kebebasan pers masih belum dimatikan, mari kita bangun kekuatan sipil. Tidak soal partai politik dan politisi lumpuh seperti ayam pengecut…” kata Syafii Maarif bekas, ketua umum Muhammadiyah (KOMPAS, 4/11/09). Katanya lagi, keberadaan Bibit dan Chandra sudah menjadi simbol hati nurani rakyat, yang seharusnya bisa ditangkap oleh pemerintah.

>>>Di laman facebook saya, beberapa hari lalu, banyak yang cemas setelah ‘kriminalisasi’ terhadap KPK akan disusul dengan ‘kriminalisasi’ pers. Wah bagaimana ini Buya?

05
Nov
09

SOT OF THE DAY: Mahfud MD, “pasti digilas!”

“Jangan berani melawan arus kekuatan rakyat. Pasti digilas!” kata ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD., setelah memperdengarkan rekaman sadapan pembicaraan telepon Anggodo dengan pelbagai pihak. Akhirnya Anggodo yang sudah ditangkap sehari sebelumnya, dilepas lagi oleh polisi karena, konon,  tidak terdapat bukti yang cukup.

>>>pasti sakit hati rakyat mendengar Anggodo dilepaskan…




Blog Stats

  • 19,699 hits

 

February 2010
M T W T F S S
« Jan    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Flickr Photos

Eyes of the World

Madrid

i heart...

More Photos